Categories
Penyakit

Kucing Peliharaan Mengeluarkan Feses Berbau Menyengat, Bagaimana Mengatasinya?

Keberadaan hewan peliharaan di rumah bisa jadi hiburan tersendiri. Mulai dari tingkahnya yang lucu, ekspresinya yang gemas, hingga bulunya yang lembut ketika dibelai. Masalahnya, feses berbau menyengat milik hewan peliharaan kita di rumah, kerap kali menjengkelkan.

Kita tahu bersama bahwa semua feses atau kotoran atau tinja memang tidak ada yang wangi. Hasil proses pencernaan itu memiliki bau yang khas. Kita tak dapat mengubah itu, tetapi bisa meminimalisirnya.

Salah satu upaya krusial yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir gangguan dari feses hewan peliharaan adalah memastikan kucing buang air di tempat yang telah disediakan. Bak tempatnya buang air besar, beserta pasir di dalamnya memang dirancang khusus untuk menyamarkan feses berbau menyengat milik kucing kita.

Namun, ada beberapa kondisi lain yang membuat bau feses kucing di rumah tetap tercium kendati sudah ditangani dengan baik. Kondisi ini terjadi karena memang terjadi perubahan pada fesesnya. 

Untuk mengatasi kondisi ini, kita harus paham dan tahu terlebih dahulu apa yang menyebabkan kucing mengeluarkan feses berbau menyengat daripada biasanya. Upaya mengatasi akan didasarkan pada penyebab terjadinya kondisi tersebut:

  • Bakteri dan parasit

Infeksi bakteri Salmonella atau E. Coli dapat menyebabkan peradangan, gangguan sistem pencernaan, diare, dan feses berbau menyengat. Masalahnya, tidak ada yang bisa memastikan apa-apa saja yang telah masuk ke dalam perut si kucing.

Selain bakteri, parasit seperti Trichomonas dan Coccidia juga dapat menyebabkan sakit perut, diare kronis, dan kotoran yang berbau busuk. Segera konsultasikan dengan dokter hewan untuk mendapatkan perawatan yang tepat, misalnya memberi antibiotik.

  • Gangguan pencernaan

Ada beberapa kondisi yang bisa memicu gangguan pencernaan pada kucing. Salah satu pemicunya adalah lemak atau pati yang tidak dapat dicerna dengan baik. Selain menyebabkan masalah pada sistem pencernaannya, kondisi ini juga menyebabkan bau tak sedap pada kotorannya. 

Selain itu, obat yang diberikan pada hewan peliharaanmu seperti penghilang rasa sakit dapat memicu perubahan dalam keseimbangan kimiawi alami, salah satunya kotoran kucing peliharaan jadi beraroma semakin tidak sedap.

  • Kandungan protein berlebih

Kucing adalah karnivora yang secara alami membutuhkan kadar protein yang cukup tinggi dalam makanannya. Jika tidak mendapatkannya dari cat food, kucing mungkin sekali akan mencarinya di luar rumah.

Sayangnya, terkadang kandungan protein yang didapat lebih tinggi ini menyebabkan feses berbau menyengat. Solusinya coba berpindah sejenak pada makanan berprotein rendah dengan karbohidrat yang lebih tinggi.

  • Pola makan

Beberapa kucing memiliki kepekaan terhadap hal-hal tertentu dalam makanannya seperti kandungan vitamin atau biji-bijian yang tinggi. Kepekaan itu bisa termanifestasi pada kotoran yang semakin berbau tidak sedap. 

Jika kamu yakin pola makanan kucing yang menyebabkan kondisi ini, coba lakukan diet eliminasi untuk mengetahui apa yang menyebabkan masalah pencernaan dan bau menyengat pada kotorannya. 

Selain itu, ada baiknya memilih cat food yang bebas dari bahan tambahan sintetik, yang dapat memicu gangguan pada kesehatan pencernaannya. Sebelum mengganti makanan kucingmu, pilih yang sesuai dengan umurnya, mengandung asam amino penting seperti taurin, serta memiliki kadar protein yang seimbang.

Itulah beberapa kemungkinan penyebab dan upaya yang bisa kita lakukan terhadap kondisi feses berbau menyengat dari kucing peliharaan kita di rumah. Intinya adalah tetap jaga kebersihan kucing, kandang, dan seluruh yang berkaitan dengan peliharaan kita. Kebersihan akan memengaruhi kesehatan, dan seterusnya akan membuat kucing, serta penghuni rumah lain menjadi lebih nyaman dan senantiasa bisa hidup berdampingan.

Categories
Hidup Sehat

Berbagai Gangguan Pencernaan yang Perlu Diwaspadai

Sistem pencernaan merupakan bagian yang rumit dan luas dari tubuh. Sistem pencernaan membantu tubuh menyerap nutrisi penting serta bertanggung jawab dalam membuang limbah dan kotoran. Oleh karena itu, gangguan pencernaan tidak boleh dianggap remeh. Meskipun terlihat bukan suatu hal yang serius, gangguan pencernaan yang tidak dirawat dan diobati dapat menyebabkan penyakit kronis berbahaya. Karena ada banyak jenis gangguan pencernaan, sangat penting untuk memahami gejala-gejala yang perlu diwaspadai. Sehingga Anda tahu kapan harus berbicara dengan dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat. Artikel ini akan membahas berbagai jenis gangguan pencernaan. 

Konstipasi kronis

Konstipasi kronis merupakan salah satu gangguan pencernaan yang mengindikasi adanya masalah dalam membuang kotoran. Hal ini biasanya terjadi ketika usus tidak bisa menggerakkan kotoran menuju bagian akhir sistem pencernaan. Anda bisa merasakan adanya rasa sakit pada bagian perut dan kembung, serta jarang buang air besar. Konstipasi kronis umum dijumpai. Untuk mengatasinya, Anda hanya perlu mendapatkan cukup serat, air, dan olahraga. Beberapa obat OTC tertentu juga dapat mengatasi konstipasi kronis dalam kasus-kassu yang lebih serius. 

Intoleransi makanan

Intoleransi makanan terjadi ketika sistem pencernaan tidak bisa menoleransi beberapa jenis makanan tertentu. Berbeda dengan kasus alergi makanan, yang dapat menyebabkan bentol dan gangguan pernapasan, intoleransi hanya memengaruhi pencernaan. Gejala intoleransi makanan di antaranya adalah keram atau kembung, diare, sakit kepala, maag, gas, dan muntah. Intoleransi makanan biasanya didiagnosa dengan membuat dan meninjau diary makanan. Tulis apa yang Anda makan dapat mengidentifikasi makanan mana yang dapat memicu gejala intoleransi. Penyakit celiac, sebuah gangguan autoimun, merupakan salah satu jenis intoleransi makanan. Penyakit tersebut menyebabkan gangguan pencernaan ketika Anda memakan gluten (sebuah protein dalam gandum). Orang-orang dengan penyakit celiac harus mengikuti diet bebas gluten untuk meminimalisir gejala dan kerusakan pada usus halus. 

GERD

Rasa panas dalam perut merupakan sebuah kondisi yang sering dijumpai pada orang dewasa. Kondisi ini terjadi ketika asam lambung kembali naik ke kerongkongan, menyebabkan nyeri dada dan sensasi terbakar pada daerah tersebut. Apabila rasa panas dalam perut tersebut sering terjadi, ada kemungkinan Anad menderita penyakit refluks gastroesophageal atau disingkat GERD. Jika rasa panas tersebut terjadi terus menerus, hal ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan merusak kerongkongan. Gejala GERD yang perlu diwaspadai adalah rasa tidak nyaman pada dada, batuk kering, rasa asam di mulut, tenggorokan radang, dan kesulitan menelan. Anda mungkin akan membutuhkan obat-obatan untuk mengatasi rasa panas tidak nyaman tersebut. Kerongkongan yang rusak dapat membuat proses menelan menjadi hal yang sulit dilakukan dan mengganggu sistem pencernaan. 

Penyakit radang usus

Penyakit radang usus (IBD) merupakan sebuah pembengkakan kronis. Penyakit ini memengaruhi satu atau lebih bagian saluran pencernaan. Ada dua jenis IBD, yaitu penyakit Chron yang memengaruhi seluruh saluran gastrointestinal namun biasanya memengaruhi usus besar dan kecil, serta kolitis ulseratif yang hanya memengaruhi usus besar. IBD juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan umum, seperti sakit perut dan diare. Gejala lain IBD di antaranya adalah badan terasa lelah, buang air besar tidak komplit, hilangnya nafsu makan dan turunnya berat badan, keringat malam, serta dubur yang berdarah. 

Anda bisa mengatasi gangguan pencernaan dengan perawatan medis yang tepat dan perubahan gaya hidup. Penyakit tertentu pada sistem pencernaan dapat bersifat jangka panjang, namun obat-obatan tersedia untuk membantu meringankan gejala yang dirasakan.