Categories
Kesehatan Wanita

Mengenal Pengapuran Plasenta saat Masa Kehamilan

Plasenta atau ari-ari adalah kondisi normal yang terjadi di setiap kehamilan. Apalagi jika sudah memasuki trimester akhir atau  kehamilan sudah melewati waktu perkiraan lahir. Pengapuran plasenta menjadi tanda bahwa adanya masalah pada kandungan.

Pengapuran ari-ari ini terjadi karena adanya penumpukan kalsium dalam plasenta yang menyebabkan jaringan plasenta menjadi lebih keras secara bertahap. Pengapuran plasenta ini juga disebut penuaan ari-ari.

Tanda-tanda yang dapat dilihat jika terjadi pengapuran plasenta adalah munculnya bintik-bintik putih di dasar ari-ari dan menyebar hingga ke permukaannya. Untuk melihat gejala ini, tentu saja dilihat dari pemeriksaan USG.

Pengapuran ari-ari ini berisiko menyebabkan komplikasi pada ibu dan juga janin dalam kandungan, terlbih jika usia kandungan kurang dari 36 minggu. Efeknya, bisa menyebabkan berat bayi lebih rendah, bayi lahir prematur, bahkan bisa menyebabkan kematian.

Gejala lain yang mungkin muncul akibat penuaan ari-ari ini adalah terjadinya pendarahan di vagina, rasa nyeri di perut atau punggung bawah, serta terjadinya kontraksi rahim.

Ada juga kasus yang membuat perut Anda tidak membesar sebagaimana mestinya. Hal ini karena pengapuran plasenta mengganggu perkembangan janin. Janin juga jadi minim gerak bahkan bukan tidak mungkin berhenti bergerak sama sekali meski sudah mendekati waktu lahir.

Faktor Penyebab Pengapuran Plasenta

Sebenarnya kalsifikasi atau pengapuran plasenta ini sudah mulai terbentu ketika kandungan memasuki usia 12 minggu. Seiring masa kehamilan, plasenta akan mengalami perubahan. Berikut empat tingkatan kalsifikasi plasenta berdasarkan usia kehamilan.

  • Tingkat 0, terjadi sebelum kandungan berusia 18 minggu
  • Tingkat 1, terjadi antara kandungan berusia 18-29 minggu
  • Tingkat 2, terjadi antara kandungan berusia 30-38 minggu
  • Tingkat 3, umumnya terjadi ketika usia kehamilan memasuki 39 minggu atau lebih. Tingkat ini biasanya pengapuran sudah tergolong berat, bintik-bintik pengapuran sudah terbentuk mengelilingi plasenta.

Adapun penyebab terjadinya pengapuran ari-ari ini karena beberapa hal, yaitu:

  • Kehamilan pertama
  • Adanya kebiasaan merokok
  • Kehamilan pada wanita berusia muda
  • Tekanan darah tinggi selama masa kehamilan
  • Stres yang berat selama kehamilan
  • Infeksi bakteri pada plasenta
  • Faktor lingkungan
  • Efek samping obat-obatan yang mengandung kalsium.

Risiko dari Pengapuran Plasenta

Meski pengapuran ari-ari adalah hal wajar, Anda juga harus waspada. Pengapuran yang terjadi tidak sesuai dengan usia kehamilan, kemungkinan disebabkan oleh adanya masalah dalam kandungan.

Berikut berbagai masalah kesehatan yang menyebabkan kalsifikasi plasenta terjadi terllau dini.

  1. Usia Kehamilan 28-36 Minggu

Kandungan akan lebih berisiko mengalami beberapa masalah jika pengapuran terjadi sebelum kandungan memasuki usia 36 minggu. Masalah yang mungkin muncul seperti pendarahan berat setelah melahirkan, bayi lahir prematur, solusio plasenta, janin meninggal dalam kandungan, serta bayi lahir dengan skor Apgar yang rendah.

  1. Usia Kehamilan 36 Minggu

Saat usia kehamilan memasuki usia 36 minggu dan pengapuran plasenta terjadi berlebihan, disebut-sebut dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi pada ibu hamil. Bahkan juga berakibat pada bayi yang lahir dengan berat rendah.

  1. Pada Usia Kehamilan 37-42 Minggu

Kalsifikasi plasenta pada umumnya terjadi saat usia kandungan memasuki minggu ke-37. Sebanyak 20-40 persen dari kehamilan normal mengalami hal ini. Namun, ini dianggap wajar dan tidak membahayakan.

Efek dari pengapuran plasenta ini akan berbeda-beda di setiap kehamilan. Tergantung pada seberapa dini pengapuran terdeteksi, kondisi kehamilan, tingkat keparahan, serta langkah penanganannya.

Seperti yang diketahui, plasenta berfungsi melindungi janin dan menyediakan asupan nutrisi bagi janin selama di dalam kandungan. Jika pengapuran plasenta muncul di awal kehamilan, tentu saja akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin.