Categories
Kulit & Kelamin

Upaya yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Molluscum Contagiosum

Kulit merupakan salah satu bagian tubuh yang paling mungkin dan sering terserang masalah kesehatan. Hal itu masuk akal lantaran kulit merupakan bagian tubuh kita yang paling sering terpapar sesuatu. Alhasil, banyak sekali ragam penyakit kulit yang telah dikenali medis. Mungkin Anda belum pernah mendengar tentang molluscum contagiosum, saking banyaknya varian penyakit kulit.

Molluscum contagiosum merupakan jenis penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi virus. Nama virus yang menyebabkan kondisi ini serupa dengan nama penyakitnya. Gejala utama yang diderita penderita penyakit ini adalah timbulnya benjolan atau lesi yang tidak berbahaya di lapisan atas kulit seseorang.

Benjolan yang ditimbulkan molluscum contagiosum biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, berbeda dengan cacar, misalnya. Benjolan-benjolan itu akan menghilang dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu dan jarang meninggalkan bekas luka, meskipun tidak diobati. Adapun lamanya waktu virus bertahan bervariasi untuk setiap orang, tetapi benjolan biasa bisa bertahan mulai dari dua bulan hingga empat tahun.

Molluscum contagiosum adalah penyakit kulit menular. Persebarannya bisa terjadi melalui kontak langsung dengan seseorang yang mengidapnya atau dengan menyentuh benda yang terkontaminasi virus, seperti handuk atau pakaian. 

Siapa pun bisa tertular molluscum contagiosum, tetapi kelompok orang tertentu lebih mungkin terinfeksi daripada yang lain. Kelompok-kelompok yang memiliki risiko tinggi terpapar virus ini antara lain: 

  • Anak-anak berusia antara 1 dan 10 tahun;
  • Orang yang tinggal di daerah beriklim tropis;
  • Orang dengan sistem kekebalan yang lemah yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti transplantasi organ atau perawatan kanker;
  • Orang yang menderita dermatitis atopik , yang merupakan bentuk umum eksim yang menyebabkan ruam bersisik dan gatal;
  • Orang yang berpartisipasi dalam olahraga kontak, seperti gulat atau sepak bola, di mana kontak kulit ke kulit biasa terjadi.

Pengobatan dan perawatan bedah untuk mengatasi penyakit ini tersedia, tetapi perawatan kerap tidak diperlukan dalam banyak kasus. Yang harus diperhatikan adalah virus bisa lebih sulit diobati jika Anda memiliki sistem kekebalan yang lemah.

Cara terbaik untuk tidak turut terpapar molluscum contagiosum adalah dengan menghindari menyentuh kulit orang lain yang terinfeksi. Upaya-upaya di bawah ini juga dapat membantu seseorang terpapar atau terinfeksi virus ini:

  • Praktikkan mencuci tangan yang efektif dengan air hangat dan sabun.
  • Ajari anak-anak tentang teknik mencuci tangan yang benar karena mereka lebih cenderung menggunakan sentuhan dalam permainan dan interaksi dengan orang lain.
  • Hindari berbagi barang pribadi. Ini termasuk handuk, pakaian, sikat rambut, atau sabun batangan.
  • Hindari penggunaan perlengkapan olahraga bersama yang mungkin bersentuhan langsung dengan kulit telanjang orang lain.
  • Hindari mengorek atau menyentuh area kulit Anda yang terdapat benjolan.
  • Jaga agar benjolan tetap bersih dan tertutup untuk mencegah diri Anda atau orang lain menyentuhnya dan menyebarkan virus.
  • Hindari mencukur atau menggunakan elektrolisis di tempat yang terdapat benjolan.
  • Hindari kontak seksual jika Anda memiliki benjolan di area genital.

Virus ini terbilang “bandel” karena cukup sulit untuk dibasmi. Lagi pula, ketika Anda pernah terpapar sekali, bukan berarti Anda dapat terbebas dari infeksi berikutnya. Berbeda dengan virus penyebab cacar, misalnya, yang tidak bisa diderita berulang oleh penderita.

Upayakan untuk selalu mewaspadai kemungkinan terjadinya paparan virus molluscum contagiosum dengan melakukan kiat-kiat di atas. Terlebih jika Anda telah terpapar, usahakan untuk tidak turut menyebarkan penyakit ini kepada orang lain. Selalu jaga kebersihan diri dan lingkungan agar terbebas dari segala macam penyakit kulit, termasuk molluscum contagiosum.

Categories
Obat

Efek Samping Penggunaan Terikortin

Merupakan salah satu obat yang digunakan untuk mengobati radang yang disertai dengan infeksi bakteri disebut dengan terikortin. Obat ini mengandung hydrocortisone termasuk dalam obat kortikosteroid dan tetracycline yang mana merupakan masuk dalam kategori antibiotik,jenis glukokortikoid hormon yang digunakan sebagai agen anti inflamasi dan imunosupresan.

Secara alami hormon ini dinamakan kortisol, diproduksi oleh zona fasciculata pada korteks adrenal yang fungsinya meningkatkan kadar gula darah melalui glukoneogenesis, menekan sistem kekebalan tubuh dan membantu proses metabolisme lemak, protein dan karbohidrat. Obat ini bekerja dengan cara menghambat sintesis protein dengan mekanisme subunit 30s ribosom bakteri.

Indikasi dan Kontra Indikasi

Terikortin dapat digunakan secara topikal untuk mengobati penyakit eksim, dermatitis kontak dan penyakit kulit lainnya. Terutama yang peka terhadap kortikosteroid, termasuk efek antibakteri juga dinginkan.

Sementara itu hydrocortisone juga merupakan salah satu kortikosteroid topikal yang disarankan dikonsumsi untuk bayi dengan usia di bawah satu tahun. Dipakai untuk mengatasi ruam kulit yang disertai manifestasi inflamasi berat akibat penggunaan popok, eksim atopik dan gigitan serangga.

Sangat disarankan untuk tidak menggunakan obat ini pada pasien dengan riwayat hipersensitif terhadap hydrocortisone atau tetracycline. Selain itu, obat ini juga sebaiknya tidak diberikan pada pasien yang menderita infeksi jamur sistemik, penderita TBC aktif, herpes zoster, herpes simplex hingga infeksi virus lain.

Efek Samping Obat

Perhatikan dengan benar penggunaan obat ini dalam jangka panjang bisa menyebabkan atrofi, striae, telangiectasias, sensasi kulit seperti terbakar, rasa gatal, iritasi, kulit, kering, folikulitis, jerawat, hipopigmentasi, dermatitis kontak alergi, infeksi sekunder hingga malaria. Pada beberapa orang yang peka terhadap obat, penggunaan obat ini menimbulkan reaksi hipersensitif.

Perhatian Khusus

Pemakaian obat ini tidak boleh sembarangan dan harus sesuai dengan rekomendasi dokter, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan terhadap konsumsi obat ini. Karena memang penggunaan yang tidak disarankan akan menimbulkan beberapa dampak negatif bagi orang yang mengonsumsinya, berikut beberapa hal yang harus dipahami.

  • Jangan menggunakan obat ini pada area mata atau area di dekat mata.
  • Kulit yang diolesi krim obat ini sebaiknya tidak dibalut perban, karena mampu meningkatkan penyerapan ke dalam darah dan membuat efek samping sistemik.
  • Belum diketahui terkait kortikosteroid topikal apakah bisa diekskresikan melalui air susu ibu (ASI), tetapi karena potensi bahaya yang mungkin timbul pada bayi, sebaiknya penggunaan obat ini oleh ibu menyusui dilakukan dengan hati-hati.
  • Penyerapan ke dalam darah dapat terjadi lebih besar terhadap pasien anak usia di bawah enam tahun. Obat ini juga akan menimbulkan efek samping jika digunakan pada area kulit yang luas, jangka panjang dan penggunaan pakaian ketat pada area kulit yang diobati.
  • Pemakaian obat-obatan antibiotik bisa menyebabkan superinfeksi, kondisi ini berbentuk pertumbuhan bakteri yang tidak peka, namun jika terjadi sebaiknya dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Toleransi Kehamilan

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memasukkan hydrocortisone ke dalam kategori C dengan alasan bahwa penelitian pada reproduksi hewan menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai serta mengendali dengan baik pada manusia. 

Fakta buruk terikortin yang sudah terbukti pada janin hewan harus menjadi perhatian serius, meski jika ada alasan medis yang mengharuskan pemakaian obat ini. Dan tidak ada pilihan obat lain, penggunaan obat yang mengandung hydrocortisone pada perempuan hamil bisa dilakukan.