Categories
Obat

Umum dalam Persalinan, Oxytocin Ternyata Memiliki Banyak Kegunaan

Oxytocin sebenarnya merupakan hormon yang diproduksi secara alami dalam tubuh manusia. Hormon ini terlibat dalam fungsi reproduksi wanita, termasuk aktivitas seksual, ketika proses persalinan, dan menyusui.

Oksitosin juga tersedia dalam bentuk obat. Dalam bentuk cairan injeksi, oxytocin digunakan untuk memulai atau meningkatkan kontraksi selama persalinan, serta mengurangi perdaharan setelahnya.

Kegunaan oxytocin

Meski oxytocin berperan penting terhadap persalinan dan menyusui, penelitian terbaru menemukan pengaruh hormon tersebut terhadap kesehatan mental dan fisik lainnya. Berikut ini beberapa khasiat oxytocin:

  • Meredakan stres

Sebuah uji coba pada tikus menunjukkan bahwa menyuntikkan oxytocin kepada tikus dapat mengurangi kecemasan, stres, dan depresi pada tikus. Karena oksitosin merupakan hormon yang membantu tubuh beradaptasi dengan situasi emosional, penggunaannya juga dapat menghasilkan efek relaksasi dan stabilitas psikologis.

Karena hal ini, para ilmuwan mengusulkan penggunaan oxytocin untuk membantu meningkatkan kesejahteraan interpersonal dan individu, serta manajemen beberapa gangguan neuropsikiatri.

  • Meningkatkan keterikatan dan hubungan

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science, wanita hamil dengan tingkat oksitosin yang lebih tinggi memiliki ikatan yang lebih kuat pada bayi setelah mereka lahir.

Setelah bayi berkontak dengan ibu, kadar oksitosin pada anak akan meningkat. Namun hal ini tak ditemukan pada seluruh anak angkat sehingga beberapa dari mereka sulit membangun hubungan dengan ibunya.

  • Meningkatkan perilaku positif

Dalam beberapa penelitian, pemberian oxytocin melalui semprotan hidung (intranasal) dapat meningkatkan persepsi diri dalam situasi sosial serta mengembangkan kepercayaan, kehangatan, altruisme, empati, dan keterbukaan pada orang lain.

Dengan mengaktifkan pusat penghargaan di otak dan efek kepercayaan yang dihasilkan, oxytocin dapat meningkatkan kesetiaan seseorang terhadap pasangannya. Terlebih lagi, ketika anak autisme menerima oxytocin mereka lebih mampu untuk berinteraksi dengan orang lain.

  • Meningkatkan gairah seksual

Salah satu alasan oksitosin disebut sebagai hormon cinta adalah perannya dalam meningkatkan keterikatan romantis. Pada tahap perkenalan dengan pasangan, mereka yang terlibat cenderung memiliki kadar oksitosin yang lebih tinggi. Kondisi ini bertahan paling lama selama 6 bulan. Maka dari itu banyak orang merasa masa pendekatan terasa lebih menyenangkan.

Hormon oksitosin juga dilepaskan dalam aktivitas seksual, termasuk saat ereksi dan orgasme. Namun tidak semua pasangan memiliki pemicu yang sama untuk melepaskan hormon oksitosin.

  • Mengurangi ketergantungan obat-obatan

Menurut sebuah artikel ilmiah yang diterbitkan pada tahun 1999 di jurnal Progress in Brain Research, oxytocin dapat menghambat toleransi dan mengurangi gejala penarikan diri terhadap penggunaan obat-obatan adiktif, termasuk kokain, opiat, dan alkohol.

Panduan penggunaan oxytocin

Oxytocin dapat diberikan dengan cara menyuntikkan cairan ke dalam pembuluh darah (intravena) atau ke dalam otot (intramuskular) oleh dokter atau petugah kesehatan lainnya. Oksitosin juga tersedia dalam bentuk semprotan hidung.

Oksitosin digunakan hanya ketika dibutuhkan, artinya tidak memiliki jadwal dosis harian. Penggunaan juga dipantau oleh profesional kesehatan sesuai dengan dosis sehingga sangat kecil kemungkinan seseorang mengalami overdosis oxytocin.

Namun obat hormon ini bisa menyebabkan beberapa efek samping seperti:

  • Mual
  • Muntah
  • Ruam
  • Gatal-gatal
  • Kesulitan bernapas atau menelan
  • Pembengkakan area tubuh, seperti wajah, tenggorokan, lidah, mata, kaki, dan tangan
  • Peningkatan detak jantung
  • Pendarahan

Jika efek samping terus berlanjut segera hubungi dokter.

Catatan

Pada dasarnya oxytocin merupakan hormon yang memiliki banyak manfaat mental maupun fisik. Sebelum menggunakan obat oksitosin, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter terutama jika Anda memiliki riwayat penyakit atau dalam kondisi khusus.