Categories
Penyakit

Tips Menghindari Biaya Operasi Usus Buntu Lewat Makanan

Biaya kesehatan tidaklah murah, apalagi jika Anda harus mendapatkan penanganan berupa pembedahan. Setidaknya, jutaan rupiah mesti Anda gelontorkan hanya untuk membiayai tindakan operasi, belum termasuk perawatan lanjutan di rumah sakit. Salah satu penyakit yang mesti mendapat tindakan pembedahan adalah radang usus buntu. 

Biaya operasi usus buntu sendiri bisa mencapai belasan juta rupiah apabila peradangan sudah masuk ke kategori kronis atau berat. Operasi mesti dilakukan guna mencegah usus buntu meledak dan menyebabkan ancaman bagi nyawa Anda. 

Mencegah tentu lebih baik daripada mesti menjalani perawatan dan mengeluarkan biaya operasi usus buntu. Berikut ini adalah beberapa tips mencegah munculnya radang usus buntu. Anda mungkin tidak menyangka bahwa cara menghindari penyakit ini sangat ditentukan oleh makanan yang Anda santap, seperti di bawah ini. 

  1. Lanjutkan Konsumsi Bawang Putih 

Bumbu dapur yang satu ini tidak hanya membuat masakan terasa lezat. Bawang putih nyatanya dapat menjadi penangkal radang usus buntu. Sifat anti bakteri dan anti inflamasi yang ada pada bawang putih efektif mencegah munculnya peradangan di usus buntu akibat bakteri maupun lainnya. Jadi mulai sekarang, cobalah menambahkan beberapa siung bawang putih pada tiap resep masakan Anda. Mengonsumsi 1-2 siung bawang putih saat perut kosong bahkan jauh lebih baik untuk menghindari biaya operasi usus buntu!

  1. Mentimun Pilihan Terbaik 

Apakah Anda termasuk orang yang senang mengonsumsi mentimun sebagai lalapan? Jika iya, berbahagialah sebab kebiasaan Anda tersebut bisa menghindarkan Anda dari risiko radang usus buntu. Mentimun mengandung enzim pencernaan berjenis erepsin. Enzim ini sangat efektif memecah protein sehingga proses cerna menjadi lebih ringan dan tidak menyasar ke bagian usus buntu. Lebih dari itu, mentimun juga memiliki sifat antibakteri dan antiparasit yang dapat membantu membersihkan dan mengencangkan usus buntu Anda. 

  1. Cari Makanan Berserat 

Serat sebenarnya dapat diperoleh dari beragam jenis makanan. Namun, buah-buahan maupun sayuran hijau menjadi sumber serat terbaik bagi Anda. Makanan berserat mampu menghindarkan Anda dari biaya operasi usus buntu karena membuat pencernaan lebih lancar. Makanan berserat dapat membantu menarik lebih banyak air ke usus besar sehingga feses menjadi lunak dan mudah dikeluarkan tubuh. Dengan tidak adanya penumpukan feses di tubuh, bakteri yang menyebabkan peradangan usus buntu dapat diminimalkan. 

  1. Pilihlah Gandum 

Makanan-makanan yang terbuat dari gandum dan bebas gluten juga sangat baik bagi kesehatan usus buntu Anda. Alasannya simpel, gandum memiliki lebih banyak serat dibandingkan jenis karbohidrat lain. Kondisi ini akan membuat sistem pencernaan lebih lancar dan menghindarkan bakteri menyasar ke bagian usus buntu Anda. Jadi biasakanlah mengonsumsi makanan dari gandum di salah satu waktu makan Anda tiap harinya. Contohnya, Anda bisa mengonsumsi oatmeal sebagai menu sarapan atau mengganti nasi Anda dengan pilihan nasi merah atau nasi gandum.. 

  1. Bantu dengan Yogurt 

Anda bisa membantu kesehatan usus dan menghindari biaya operasi usus buntu dengan rutin mengonsumsi yogurt. Pasalnya, yogurt termasuk makanan fermentasi yang tinggi akan probiotik. Probiotik sendiri merupakan jenis bakteri baik yang dapat melawan bakteri jahat dalam usus Anda. Ketika Anda rutin mengonsumsi yogurt, artinya Anda bisa mencegah peradangan di usus buntu maupun bagian tubuh lainnya yang diakibatkan oleh infeksi bakteri jahat. Selain manfaatnya yang apik, yogurt pun memiliki rasa enak sehingga bisa dinikmati sebagai dessert kapanpun Anda mau. 

*** 

Selain mengonsumsi berbagai makanan yang bisa menghindarkan Anda dari operasi usus buntu, sebaiknya Anda juga mengurangi menyantap makanan yang meningkatkan risiko peradangan. Makanan yang terlalu berminyak maupun memiliki rasa pedas menjadi salah satu pemicu munculnya peradangan di usus buntu Anda.

Categories
Kesehatan Wanita

Mengenal Lumpektomi & Masektomi, Dua Prosedur Operasi Kanker Payudara

Kanker payudara masih memegang predikat sebagai kanker dengan penderita paling banyak di Indonesia. Berdasarkan data yang dimiliki Global Cancer Observatory, kanker payudara menyerang 42, 1 per 100.000 penduduk dengan tingkat kematian 17 per 100.000 penduduk. Penyakit ini sebenarnya dapat diatasi sampai tuntas jika disadari sejak awal. Penanganan khas kanker payudara adalah lumpektomi dan masektomi.

Dua penanganan tersebut dapat menjadi alternatif pilihan selain penanganan kanker yang sifatnya umum, seperti kemoterapi. Baik lumpektomi dan masektomi sama-sama mengandalkan metode bedah. Lantas, di manakah letak perbedaan di antara keduanya?

  • Masektomi

Secara garis besar, mastektomi dapat dipahami sebagai sebuah prosedur operasi untuk mengangkat seluruh payudara yang telah terserang sel kanker. Pilihan ini tak jarang langsung ditawarkan oleh dokter yang menangani pasien. Namun, sebelum menentukan pilihan, pastikan terlebih dahulu baik dan buruk dari metode ini.

Ketika seluruh jaringan payudara yang terkena kanker diangkat, kemungkinan sel kanker itu tertinggal atau kembali lagi jadi semakin kecil. Bagi sebagian wanita, kondisi ini mungkin akan menjauhkannya dari kekhawatiran. Tetapi, metode ini juga tetap mengharuskan pasien melakukan terapi radiasi, tergantung dari hasil patologi.

Prosedur mastektomi meninggalkan beberapa cela, salah satunya adalah ia membutuhkan waktu lebih lama dan lebih luas daripada metode lumpektomi. Selain itu, efek sampingnya dari masektomi pun terbilang cukup banyak.

Mastektomi ini terbagi lagi ke dalam lima jenis prosedur, di antaranya:

  • Sederhana (total): Dalam prosedur ini, dokter akan mengangkat seluruh payudara, tetapi tidak menghilangkan kelenjar getah bening di ketiak atau otot di bawah payudara. Mastektomi sederhana ini direkomendasikan untuk wanita yang ingin mencegah kanker payudara tumbuh kembali.
  • Radikal yang dimodifikasi: Prosedur mastektomi ini mengangkat seluruh payudara dan beberapa kelenjar getah bening. Namun, tidak ada otot yang diangkat. Dokter melakukan mastektomi ini untuk memeriksa kelenjar getah bening dan menentukan kanker telah menyebar di luar payudara atau belum.
  • Radikal: Tindakan ini adalah jenis mastektomi yang paling invasif. Mastektomi radikal mengangkat seluruh payudara, kelenjar getah bening di ketiak, dan otot-otot di dada. Prosedur ini hanya disarankan jika kanker telah menyebar ke otot-otot dada di payudara.
  • Sebagian: Dalam prosedur ini, dokter hanya mengangkat bagian payudara yang terkena kanker dan beberapa jaringan di sekitarnya. Meskipun mirip dengan lumpektomi, prosedur ini menghilangkan lebih banyak jaringan.
  • Subkutan: Prosedur ini juga dikenal sebagai mastektomi puting, operasi ini menyasar semua jaringan payudara tetapi tetap mempertahankan puting.

Jenis prosedur ini akan menyesuaikan kondisi dari pasien setelah dokter mendapatkan diagnosis yang pasti.

  • Lumpektomi

Perbedaan mendasar masektomi dan lumpektomi adalah jaringan yang diangkat. Lumpektomi hanya akan mengangkat jaringan payudara yang terserang, tanpa mengambil atau menghilangkan payudara.

Kemudian, meski membuang sebagian jaringan, lumpektomi tetap mencoba untuk membuat payudara terlihat semirip mungkin dengan aslinya. Prosedur ini direkomendasikan untuk pasien dengan bentuk kanker yang kurang invasif.

Setelah prosedur lumpektomi, dokter akan memeriksa untuk memastikan semua kanker telah terangkat. Biasanya pasien akan memerlukan terapi radiasi (RT) setelah operasi lumpektomi untuk mencegah kanker berulang dan menghancurkan sel-sel kanker yang tersisa.

Sisi positif dari lumpektomi adalah pasien tetap dapat mempertahankan sebagian besar penampilan dan sensasi payudara. Namun, lumpektomi memiliki beberapa kelemahan potensial, seperti pasien masih harus menjalani terapi radiasi selama 5 hingga 7 minggu sebanyak 5 hari per minggu sebagai upaya memaksimalkan hasil yang didapat.

***

Berdasarkan apa yang tersaji di atas, terlihat jelas pebedaan dari kedua metode penanganan kanker payudara dengan metode operasi tersebut. Adapun yang terbaik di antara masektomi dan lumpektomi kembali lagi ke masing-masing kondisi dari pasien. Dokter akan memberikan rekomendasi metode yang paling baik dan tepat untuk pasien berdasarkan diagnosis yang dimilikinya.