Categories
Obat

Efek Samping Penggunaan Terikortin

Merupakan salah satu obat yang digunakan untuk mengobati radang yang disertai dengan infeksi bakteri disebut dengan terikortin. Obat ini mengandung hydrocortisone termasuk dalam obat kortikosteroid dan tetracycline yang mana merupakan masuk dalam kategori antibiotik,jenis glukokortikoid hormon yang digunakan sebagai agen anti inflamasi dan imunosupresan.

Secara alami hormon ini dinamakan kortisol, diproduksi oleh zona fasciculata pada korteks adrenal yang fungsinya meningkatkan kadar gula darah melalui glukoneogenesis, menekan sistem kekebalan tubuh dan membantu proses metabolisme lemak, protein dan karbohidrat. Obat ini bekerja dengan cara menghambat sintesis protein dengan mekanisme subunit 30s ribosom bakteri.

Indikasi dan Kontra Indikasi

Terikortin dapat digunakan secara topikal untuk mengobati penyakit eksim, dermatitis kontak dan penyakit kulit lainnya. Terutama yang peka terhadap kortikosteroid, termasuk efek antibakteri juga dinginkan.

Sementara itu hydrocortisone juga merupakan salah satu kortikosteroid topikal yang disarankan dikonsumsi untuk bayi dengan usia di bawah satu tahun. Dipakai untuk mengatasi ruam kulit yang disertai manifestasi inflamasi berat akibat penggunaan popok, eksim atopik dan gigitan serangga.

Sangat disarankan untuk tidak menggunakan obat ini pada pasien dengan riwayat hipersensitif terhadap hydrocortisone atau tetracycline. Selain itu, obat ini juga sebaiknya tidak diberikan pada pasien yang menderita infeksi jamur sistemik, penderita TBC aktif, herpes zoster, herpes simplex hingga infeksi virus lain.

Efek Samping Obat

Perhatikan dengan benar penggunaan obat ini dalam jangka panjang bisa menyebabkan atrofi, striae, telangiectasias, sensasi kulit seperti terbakar, rasa gatal, iritasi, kulit, kering, folikulitis, jerawat, hipopigmentasi, dermatitis kontak alergi, infeksi sekunder hingga malaria. Pada beberapa orang yang peka terhadap obat, penggunaan obat ini menimbulkan reaksi hipersensitif.

Perhatian Khusus

Pemakaian obat ini tidak boleh sembarangan dan harus sesuai dengan rekomendasi dokter, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan terhadap konsumsi obat ini. Karena memang penggunaan yang tidak disarankan akan menimbulkan beberapa dampak negatif bagi orang yang mengonsumsinya, berikut beberapa hal yang harus dipahami.

  • Jangan menggunakan obat ini pada area mata atau area di dekat mata.
  • Kulit yang diolesi krim obat ini sebaiknya tidak dibalut perban, karena mampu meningkatkan penyerapan ke dalam darah dan membuat efek samping sistemik.
  • Belum diketahui terkait kortikosteroid topikal apakah bisa diekskresikan melalui air susu ibu (ASI), tetapi karena potensi bahaya yang mungkin timbul pada bayi, sebaiknya penggunaan obat ini oleh ibu menyusui dilakukan dengan hati-hati.
  • Penyerapan ke dalam darah dapat terjadi lebih besar terhadap pasien anak usia di bawah enam tahun. Obat ini juga akan menimbulkan efek samping jika digunakan pada area kulit yang luas, jangka panjang dan penggunaan pakaian ketat pada area kulit yang diobati.
  • Pemakaian obat-obatan antibiotik bisa menyebabkan superinfeksi, kondisi ini berbentuk pertumbuhan bakteri yang tidak peka, namun jika terjadi sebaiknya dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Toleransi Kehamilan

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memasukkan hydrocortisone ke dalam kategori C dengan alasan bahwa penelitian pada reproduksi hewan menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai serta mengendali dengan baik pada manusia. 

Fakta buruk terikortin yang sudah terbukti pada janin hewan harus menjadi perhatian serius, meski jika ada alasan medis yang mengharuskan pemakaian obat ini. Dan tidak ada pilihan obat lain, penggunaan obat yang mengandung hydrocortisone pada perempuan hamil bisa dilakukan.

Categories
Obat

Jangan Diremehkan, Ini Bahaya Alergi Antibiotik

Antibiotik merupakan salah satu jenis obat yang banyak digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Akan tetapi, tidak semua orang bisa sembuh dengan efektif setelah mengonsumsi antibiotik. Beberapa orang mungkin memiliki alergi antibiotik yang menimbulkan efek samping setelah pemakaiannya.

Apabila Anda memiliki alergi antibiotik, Anda harus berhati-hati dalam mengonsumsinya. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter demi keamanan kesehatan Anda. 

Bahaya alergi antibiotik

Reaksi alergi terhadap obat antibiotik tidak selalu langsung dirasakan. Anda mungkin tidak mengalaminya pada tahap-tahap awal mengonsumsi antibiotik. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, alergi mulai berkembang dan obat tersebut tidak lagi efektif untuk mengobati penyakit Anda.

Anda harus bisa membedakan reaksi alergi dengan efek samping. Efek samping obat biasanya cenderung lebih ringan dan umumnya berupa mual, sakit perut, diare, dan ruam kulit setelah beraktivitas di bawah sinar matahari.

Akan tetapi, hal ini berbeda dengan reaksi alergi. Anda akan merasakan gejala yang lebih serius bila Anda memiliki alergi terhadap obat yang dikonsumsi, termasuk antibiotik. 

Reaksi alergi tersebut dapat berupa penurunan tekanan darah, hidung tersumbat, detak jantung cepat, dan sesak napas. Apabila Anda merasakan gejala ini, segera periksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

Jangan remehkan reaksi alergi, meski gejala yang Anda rasakan mungkin tidak terlalu parah. Seiring berjalannya waktu, alergi akan semakin berkembang menjadi parah dan berbahaya untuk kesehatan Anda.

Tubuh Anda membangun antibodi untuk melawan antibiotik tersebut. Akibatnya, respon sistem kekebalan Anda akan lebih kuat setiap saat dan dapat mempersingkat waktu yang diperlukan untuk memunculkan gejala reaksi. 

Bahkan, dalam kasus yang cukup parah, reaksi ini bisa menyebabkan kematian hanya beberapa menit setelah antibiotik dikonsumsi.

Karena itu, segera hentikan penggunaan antibiotik dan konsultasikan dengan dokter Anda apabila Anda mengalami reaksi alergi. 

Diagnosa reaksi alergi antibiotik

Sebelum mengalami reaksi alergi, Anda bisa terlebih dahulu mencari tahu apabila Anda memiliki alergi antibiotik atau tidak. Proses diagnosa biasanya akan dilakukan dengan cara: 

  • Tes darah

Darah Anda akan diambil sebagai sampel untuk kemudian diuji. Hasil pengujian akan memberikan informasi kepada dokter mengenai cara tubuh Anda bekerja. Darah akan diambil dari area tangan atau lengan Anda. 

  • Patch test

Tes ini dilakukan dengan memberikan sejumlah antibiotik dalam dosis kecil ke kulit Anda. Area kulit yang diberikan antibiotik akan ditutup dengan patch khusus selama dua hari. Setelah itu, pihak rumah sakit akan melihat reaksi kulit Anda terhadap antibiotik tersebut.

  • Tes dengan jarum

Pada tes ini, kulit Anda akan ditusuk dengan jarum. Setetes kecil antibiotik akan diletakkan di lengan bagian bawah Anda. Nanti, pihak rumah sakit akan memperhatikan reaksi yang ditimbulkannya. 

  • Tes intradermal

Sejumlah kecil cairan antibiotik akan diletakkan di bawah permukaan kulit Anda. Nantinya, pihak rumah sakit akan mengawasi reaksinya. 

  • Tes provokasi obat

Tes ini dikenal juga dengan sebutan tes tantangan antibiotik. Pihak rumah sakit akan memberikan peningkatan dosis antibiotik kepada Anda. Anda akan diminta untuk menggunakan antibiotik dengan dosis yang dinaikkan tersebut dan mengawasi reaksinya. 

Berdasarkan hasil tes yang dilakukan, Anda bisa mengetahui seperti apa reaksi alergi yang ditimbulkan apabila Anda memiliki alergi antibiotik. Semakin cepat Anda menyadari alergi Anda, semakin cepat juga Anda bisa melakukan upaya pencegahan dan mencari alternatif pengobatan yang lain.