Categories
Hidup Sehat

Mengenal Dampak Makanan Fortifikasi bagi Kesehatan

Pernahkah Anda mendengar istilah makanan fortifikasi? Bagi Anda yang belum mengenalnya, makanan fortifikasi adalah makanan yang dibuat dengan tambahan nutrisi lebih tinggi dari pada yang disediakan oleh makanan asli.

Penambahan nutrisi dilakukan guna mengatasi defisiensi mikronutrien. Nutrisi ini ditambahkan oleh pihak produsen makanan. Akan tetapi, nutrisi ini tidak selalu dimaksudkan untuk mengganti nutrisi lama yang telah hilang selama proses pembuatan.

Mengenal lebih jauh tentang makanan fortifikasi

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, makanan fortifikasi mengandung nutrisi tambahan yang ditambahkan oleh pihak produsen makanan. Penambahan nutrisi ini bermanfaat bagi Anda yang mungkin melewatkan beberapa nutrisi penting dalam makanan yang Anda konsumsi.

Biasanya, makanan yang diperkaya dengan nutrisi tambahan tidak memiliki tambahan nutrisi yang terjadi secara alamiah. Adanya tambahan nutrisi diharapkan bisa menambahkan manfaat dari makanan tersebut bagi kesehatan.

Sebagai contoh, susu seringkali diperkaya dengan tambahan vitamin D. Selain itu, banyak juga produk minuman jus buah dengan tambahan nutrisi berupa kalsium.

Selain contoh tersebut, makanan yang mengandung biji-bijian juga seringkali diolah dengan proses penambahan nutrisi. Contohnya adalah tepung terigu. Di dalam tepung terigu, terdapat kandungan asam folat, riboflavin, dan zat besi yang ditambahkan kembali setelah diproses.

Penambahan vitamin D pada susu sebagai makanan fortifikasi pertama kali dilakukan pada tahun 1933. Tujuan penambahan vitamin D guna memastikan terserapnya kalsium dalam jumlah yang cukup.

Karena, kekurangan vitamin D merupakan salah satu kondisi yang cukup umum terjadi baik pada anak-anak maupun orang dewasa, sejak dulu sampai sekarang. Pada orang dewasa, kondisi ini bisa memicu osteoporosis, sementara anak-anak dapat terkena rakhitis.

Dampak makanan fortifikasi bagi kesehatan

Sebenarnya, selama ratusan tahun, makanan fortifikasi telah banyak diperjualbelikan dan dikonsumsi secara rutin. Akan tetapi, belum ada penelitian yang bisa memastikan apakah tambahan nutrisi pada makanan ini memang benar-benar bisa meningkatkan kesehatan seseorang.

Awalnya, makanan dengan tambahan nutrisi digunakan untuk mengatasi penyakit umum yang disebabkan oleh kekurangan nutrisi. Akan tetapi, penyakit-penyakit umum tersebut kini sudah tidak lagi banyak menyerang orang-orang.

Namun, dapat dipastikan, adanya konsumsi makanan dengan tambahan nutrisi telah meningkatkan kadar konsumsi vitamin dan mineral. Namun, hanya nutrisi asam folat yang telah terbukti bisa meningkatkan kesehatan.

Setiap orang memerlukan asupan nutrisi yang berbeda-beda. Ada banyak faktor yang menentukan apa saja jenis nutrisi untuk dikonsumsi seseorang, mulai dari usia, tempat tinggal, jenis kelamin, dan lain sebagainya.

Karena itu, nutrisi pada makanan fortifikasi tidak bisa disamaratakan manfaatnya untuk semua orang. Mengonsumsi makanan dengan tambahan nutrisi sehari-hari mungkin bisa mengubah pola makan Anda menjadi sehat.

Akan tetapi, tidak bisa dipastikan apa pengaruhnya bagi kesehatan, tergantung dengan kondisi kesehatan tubuh Anda secara keseluruhan.

Resiko mengonsumsi makanan fortifikasi

Karena nutrisi yang diperlukan oleh setiap orang berbeda-beda, mengonsumsi makanan dengan tambahan nutrisi bisa saja menjadi beresiko. Anda mungkin berpotensi mendapatkan asupan nutrisi yang terlalu banyak, melebihi kapasitas yang seharusnya.

Oleh sebab itu, jika Anda memang ingin mengonsumsi makanan jenis ini, sebaiknya perhatikan setiap instruksi mengenai komposisi nutrisi pada label kemasan makanan. Cari tahu juga asupan nutrisi yang diperlukan untuk orang seusia Anda dengan melakukan riset ataupun bertanya langsung pada dokter.

Jangan sampai, makanan fortifikasi yang Anda konsumsi bukannya memberikan asupan nutrisi tambahan, melainkan malah memperburuk kondisi kesehatan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *