Categories
Penyakit

5 Cara Menangani Penyakit Osgood-Schlatter

Anak Anda mengeluhkan rasa sakit pada bagian bawah lutut? Jangan-jangan ia tengah mengalami penyakit Osgood-schlatter. Ini merupakan munculnya benjolan tulang di area sekitar tulang kering di bawah lutut. Benjolan tersebut muncul sebagai imbas percepatan pertumbuhan selama masa pubertas. 

image Penyakit Osgood-Schlatter

Anak-anak usia belasan tahun lah yang paling sering mengalami penyakit Osgood-schlatter. Beberapa keluhan yang mungkin akan Anda sering dengar dari anak terkait penyakit ini adalah rasa sakit pada lutut, pembengkakan kaki, sampai kepincangan. 

Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk membuat penyakit osgood-schlatter hilang dengan sendirinya. Namun, Anda bisa melakukan beberapa tindakan untuk mengurangi gejala penyakit ini. Berikut adalah beberapa di antaranya. 

Batasi Aktivitas Fisik 

Gejala dari penyakit Osgood-schlatter dapat semakin parah ketika penderitanya memaksakan untuk terus bergerak dengan cepat dan mengalami tekanan keras. Anda tentu tidak ingin mendengar jerit anak Anda yang kesakitan ketika gejala masalah pertumbuhan tulang ini semakin parah, bukan? Karena itu, sebaiknya Anda mulai membatasi aktivitas fisik anak selama ia menderita penyakit Osgood-schlatter. Anda bisa memintanya untuk tidak melakukan olahraga-olahraga sementara waktu, seperti bermain sepak bola, basket, ataupun angkat beban. 

Kenakan Pelindung Lutut 

Menaruh pelindung lutut pada kaki yang sedang mengalami penyakit Osgood-schlatter memang tidak dapat menghilangkan masalah yang satu ini. Namun setidaknya, mengenakan pelindung lutut dapat mengurangi tekanan yang menjadi sebab rasa sakit. Dengan demikian, nyeri yang dirasakan bisa diminimalkan. Pemakaian pelindung lutut pada penderita penyakit Osgood-schlatter juga bisa meredakan pembengkakan di area bawah lutut atau tulang kering. 

Kompres dengan Es 

Mengompres lutut yang nyeri karena penyakit Osgood-schlatter menggunakan batu es bisa sangat membantu mengatasi rasa sakit. Karena itu, tidak ada salahnya Anda melakukan kompres dengan es kepada penderita penyakit ini secara teratur. Anda bisa memberi kompres es ke lutut penderita Osgood-schlatter dengan durasi 15—30 menit. Ulangi pengompresan sebanyak 4 kali dalam sehari untuk mengurangi peradangan dan memudarkan rasa nyeri. Namun yang mesti Anda ingat, es memang dapat membantu meredakan nyeri setelah beraktivitas pada penderita penyakit osgood-schlatter. Akan tetapi, es tidak berpengaruh besar pada manfaat jangka panjang untuk membuat penyembuhan akan penyakit ini semakin singkat.

Gunakan Obat 

Ada kalanya rasa sakit akibat penyakit Osgood-schlatter menjadi sangat parah sehingga membuat penderitanya menjerit keras karena tidak tahan. Umumnya ketika Anda pergi ke dokter untuk mengeluhkan kondisi ini, dokter akan memberi beberapa obat untuk meringankan gejala penderita. Beberapa obat yang kerap digunakan untuk menurunkan kadar gejala penyakit Osgood-schlatter, antara lain obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen atau naproxen. Obat-obat tersebut bisa membantu mengurangi rasa sakit dan bengkak.

Jalani Terapi Fisik 

Penanganan penyakit Osgood-schlatter tidak hanya dilakukan ketika rasa nyeri sedang dialami. Penanganan penyakit ini juga dapat dilakukan ketika nyeri mulai mereda. Penderita penyakit Osgood-schlatter dapat menjalani terapi fisik untuk meregangkan dan memperkuat kembali bagian kaki depan. Terapi fisik ini diharapkan mampu membuat rasa nyeri akibat penyakit Osgood-schlatter tidak lagi terlalu parah apabila gejalanya berulang kembali. Biasanya, terapi fisik hanya dilakukan oleh penderita penyakit Osgood-schlatter yang sudah tergolong cukup parah. Terapi fisik mengarah pada tujuan peregangan dan latihan yang membantu meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot kaki untuk mengurangi ketegangan pada tulang kering dan menstabilkan sendi lutut.

Dokter biasanya akan memberikan penanganan lebih lanjut apabila didapati gejala penderita Osgood-schlatter cukup akut. Mulai dari suntikan kortikosteroid sampai upaya pembedahan mungkin saja akan dianjurkan kepada pasien jika memang dibutuhkan.

Categories
Penyakit

Tips Menghindari Biaya Operasi Usus Buntu Lewat Makanan

Biaya kesehatan tidaklah murah, apalagi jika Anda harus mendapatkan penanganan berupa pembedahan. Setidaknya, jutaan rupiah mesti Anda gelontorkan hanya untuk membiayai tindakan operasi, belum termasuk perawatan lanjutan di rumah sakit. Salah satu penyakit yang mesti mendapat tindakan pembedahan adalah radang usus buntu. 

Biaya operasi usus buntu sendiri bisa mencapai belasan juta rupiah apabila peradangan sudah masuk ke kategori kronis atau berat. Operasi mesti dilakukan guna mencegah usus buntu meledak dan menyebabkan ancaman bagi nyawa Anda. 

Mencegah tentu lebih baik daripada mesti menjalani perawatan dan mengeluarkan biaya operasi usus buntu. Berikut ini adalah beberapa tips mencegah munculnya radang usus buntu. Anda mungkin tidak menyangka bahwa cara menghindari penyakit ini sangat ditentukan oleh makanan yang Anda santap, seperti di bawah ini. 

  1. Lanjutkan Konsumsi Bawang Putih 

Bumbu dapur yang satu ini tidak hanya membuat masakan terasa lezat. Bawang putih nyatanya dapat menjadi penangkal radang usus buntu. Sifat anti bakteri dan anti inflamasi yang ada pada bawang putih efektif mencegah munculnya peradangan di usus buntu akibat bakteri maupun lainnya. Jadi mulai sekarang, cobalah menambahkan beberapa siung bawang putih pada tiap resep masakan Anda. Mengonsumsi 1-2 siung bawang putih saat perut kosong bahkan jauh lebih baik untuk menghindari biaya operasi usus buntu!

  1. Mentimun Pilihan Terbaik 

Apakah Anda termasuk orang yang senang mengonsumsi mentimun sebagai lalapan? Jika iya, berbahagialah sebab kebiasaan Anda tersebut bisa menghindarkan Anda dari risiko radang usus buntu. Mentimun mengandung enzim pencernaan berjenis erepsin. Enzim ini sangat efektif memecah protein sehingga proses cerna menjadi lebih ringan dan tidak menyasar ke bagian usus buntu. Lebih dari itu, mentimun juga memiliki sifat antibakteri dan antiparasit yang dapat membantu membersihkan dan mengencangkan usus buntu Anda. 

  1. Cari Makanan Berserat 

Serat sebenarnya dapat diperoleh dari beragam jenis makanan. Namun, buah-buahan maupun sayuran hijau menjadi sumber serat terbaik bagi Anda. Makanan berserat mampu menghindarkan Anda dari biaya operasi usus buntu karena membuat pencernaan lebih lancar. Makanan berserat dapat membantu menarik lebih banyak air ke usus besar sehingga feses menjadi lunak dan mudah dikeluarkan tubuh. Dengan tidak adanya penumpukan feses di tubuh, bakteri yang menyebabkan peradangan usus buntu dapat diminimalkan. 

  1. Pilihlah Gandum 

Makanan-makanan yang terbuat dari gandum dan bebas gluten juga sangat baik bagi kesehatan usus buntu Anda. Alasannya simpel, gandum memiliki lebih banyak serat dibandingkan jenis karbohidrat lain. Kondisi ini akan membuat sistem pencernaan lebih lancar dan menghindarkan bakteri menyasar ke bagian usus buntu Anda. Jadi biasakanlah mengonsumsi makanan dari gandum di salah satu waktu makan Anda tiap harinya. Contohnya, Anda bisa mengonsumsi oatmeal sebagai menu sarapan atau mengganti nasi Anda dengan pilihan nasi merah atau nasi gandum.. 

  1. Bantu dengan Yogurt 

Anda bisa membantu kesehatan usus dan menghindari biaya operasi usus buntu dengan rutin mengonsumsi yogurt. Pasalnya, yogurt termasuk makanan fermentasi yang tinggi akan probiotik. Probiotik sendiri merupakan jenis bakteri baik yang dapat melawan bakteri jahat dalam usus Anda. Ketika Anda rutin mengonsumsi yogurt, artinya Anda bisa mencegah peradangan di usus buntu maupun bagian tubuh lainnya yang diakibatkan oleh infeksi bakteri jahat. Selain manfaatnya yang apik, yogurt pun memiliki rasa enak sehingga bisa dinikmati sebagai dessert kapanpun Anda mau. 

*** 

Selain mengonsumsi berbagai makanan yang bisa menghindarkan Anda dari operasi usus buntu, sebaiknya Anda juga mengurangi menyantap makanan yang meningkatkan risiko peradangan. Makanan yang terlalu berminyak maupun memiliki rasa pedas menjadi salah satu pemicu munculnya peradangan di usus buntu Anda.

Categories
Penyakit

Penyakit Serius yang Mesti Ditangani Dokter Penyakit Dalam

Mendatangi klinik-klinik yang berada di dekat rumah kerap menjadi pilihan banyak orang di masa pandemi ini dibandingkan harus pergi ke rumah sakit. Klinik dianggap lebih aman karena tidak menangani pasien Covid-19. Berobat di klinik pun bisa menghemat biaya karena tarifnya yang lebih murah daripada rumah sakit. Namun, tahukah Anda bahwa kebanyakan dokter yang ada di klinik masih berstatus dokter umum?

Padahal, bisa jadi penyakit yang sedang Anda hadapi memiliki kebutuhan untuk ditangani dokter yang lebih spesialis. Anda yang memiliki penyakit-penyakit kronis tahunan ataupun yang tengah mendapat penyakit yang tidak kunjung sembuh sebaiknya tidak ditangani oleh dokter umum, melainkan oleh dokter penyakit dalam. 

Dokter penyakit dalam merupakan dokter spesialis yang menangani berbagai keluhan dan gejala penyakit yang terkait dengan organ tubuh pasien. Penyakit-penyakit serius yang membutuhkan perawatan berkelanjutan umumnya ditangani oleh dokter spesialis yang satu ini. Berikut ini adalah 5 penyakit serius yang biasanya langsung dirujuk untuk ditangani dokter penyakit dalam

  1. Diabetes 

Diabetes merupakan kondisi ketika sensitivitas insulin dalam tubuh berkurang sehingga menyebabkan kadar gula darah tidak terkontrol dan selalu berada di atas normal. Ini merupakan penyakit kronis yang mesti ditangani secara berkelanjutan agar tidak menyebabkan komplikasi ke bagian tubuh lainnya. Jika dibiarkan, sangat mungkin diabetes menimbulkan masalah kesehatan lain, seperti penyakit ginjal, penyakit jantung, kebutaan, dan berbagai masalah lain. Karena itu, sebaiknya jika Anda memiliki kadar gula darah yang tinggi, segeralah berobat ke dokter penyakit dalam. 

  1. Kanker 

Kanker menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia yang sampai saat ini masih sulit untuk ditangani. Seseorang yang mengidap kanker pada awalnya sangat mungkin tidak menyadari adanya se lasing jahat yang tengah menggerogoti organ tubuhnya. Pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh dan lengkap perlu dilakukan untuk mencapai kesimpulan seseorang mengalami kanker atau tidak. Karena itulah, baiknya Anda melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan segera berkonsultasi ke dokter penyakit dalam apabila terdapat temuan dalam tes yang mengarah pada pertumbuhan sel asing di dalam tubuh. 

  1. Penyakit Ginjal 

Banyak jenis penyakit yang berhubungan dengan ginjal. Ada penyakit batu ginjal sampai gagal ginjal. Namun apapun itu, penanganan yang tepat haruslah berasal dari dokter penyakit dalam. Pasalnya, terganggunya bagian ginjal akan membuang pembersihan dan penyaringan racun di dalam darah menjadi tidak optimal. Pemeriksaan secara berkala dan teratur mesti dilakukan untuk memastikan fungsi ginjal tidak semakin menurun dan meminimalkan risiko kematian penderitanya. 

  1. Hipertensi 

Hipertensi merupakan bahasa medis yang mengarah pada kondisi tekanan darah yang terlalu tinggi pada seseorang. Anda tergolong mengalami hipertensi apabila secara berturut-turut memiliki tekanan darah di atas 140/90 mmHg. Dampak dari penyakit ini memang tidak langsung terasa di badan. Akan tetapi, hipertensi dapat menjadi awal berbagai penyakit serius lain, seperti penyakit jantung, ginjal, sampai stroke. Jadi, berhati-hatilah dan lakukan pengecekan secara rutin ke dokter penyakit dalam. 

  1. Hipotiroid 

Berbagai masalah hormon umumnya ditangani oleh dokter penyakit dalam, termasuk kasus hipotiroid. Ini merupakan kondisi ketika produksi hormone tiroid di tubuh terlalu sedikit, sehingga metabolisme tubuh menjadi terhambat. Beberapa gejala penyakit ini adalah rasa lelah yang terus-menerus, kepikunan, kenaikan berat badan, juga kondisi kulit dan rambut yang mendadak mengering. Hipotiroid bisa diobati dengan mengembalikan kadar hormone tiroid lewat sejumlah terapi obat. 

*** 

Banyak penyakit serius yang terlambat ditangani karena penderita memandang remeh gejala di tubuhnya dan memilih tidak berobat ke dokter penyakit dalam. Maka itu, sebaiknya jika pergi ke klinik dan tidak sembuh dalam 2 kali kunjungan, segeralah meminta rujukan untuk menemui dokter spesialis yang sesuai dengan keluhan Anda.

Categories
Penyakit

Pengertian dan Gejala Esopaghitis yang Perlu Dipahami

Seseorang pasti pernah mengalami kesulitan dan merasa sakit ketika menelan atau merasakan naiknya asam lambung ke kerongkongan. Kondisi ini patut diwaspadai bagi orang yang pernah mengalaminya, karena kemungkinan mengalami peradangan pada kerongkongan atau juga disebut dengan istilah esopaghitis.

Esophagus atau kerongkongan adalah organ dengan fungsi menyalurkan makanan dari mulut ke lambung. Makanan yang dikonsumsi akan berjalan melalui esofaus dengan menggunakan proses peristaltik. Naiknya asam lambung ke kerongkongan ini berisiko merusak jaringan-jaringan esofagus, tingkat keparahannya semakin tinggi jika seseorang menelan basa kuat dibanding organ lambung.

Apa Itu Esopaghitis

Merupakan peradangan yang terjadi pada lapisan kerongkongan, organ ini berbentuk pipa dengan fungsi menyalurkan makanan dari mulut ke lambung. Naiknya asam lambung ke kerongkongan bisa menimbulkan rasa sakit dan kesulitan ketika menelan, hingga menimbulkan rasa perih yang muncul di dada.

Durasi waktu atau lama penyembuhan kondisi ini tergantung dari apa yang menyebabkan serta kekebalan tubuh dari penderita.  Pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang baik bisa sembuh setelah menjalani pengobatan kurang lebih selama dua hingga empat minggu. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini akan merusak jaringan sehingga menimbulkan luka.

Selain menimbulkan luka kondisi ini juga bisa menyebabkan penyempitan pada kerongkongan, perlu diwaspadai jika seseorang mengalami beberapa gejala yang merupakan tanda munculnya kondisi ini. Jika beberapa gejala tersebut muncul, segera lakukan pemeriksaan ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat, berikut ini beberapa gejalanya.

  • Sakit ketika menelan.
  • Sulit menelan.
  • Terasa perih di dada atau biasanya terasa di belakang tulang dada saat makan.
  • Mual dan muntah.
  • Merasakan nyeri pada ulu hati.
  • Asam lambung terasa naik ke kerongkongan atau ke mulut (regurgitasi).
  • Sariawan, tidak nafsu makan dan batuk.

Gejala berbeda dialami anak-anak, selain kesulitan saat makan atau menelan asi, kondisi ini juga ditandai dengan terganggunya pertumbuhan. Jika seseorang atau anak mengalami beberapa gejala berikut ini.

  • Merasakan nyeri di dada seperti ditindih, terutama jika seseorang itu juga menderita penyakit jantung dan hipertensi.
  • Sulit meneln air meskipun hanya dalam jumlah sedikit dan merasa ada makanan yang tersangkut di kerongkongan.

Penyebab Muncul

  • Refluks

Kondisi di mana naiknya asam lambung ke kerongkongan, disebabkan adanya gangguan pada katup yang fungsinya menahan isi lambung agar tidak naik ke kerongkongan. Kondisi ini juga lebih cenderung muncul pada penderita asam lambung yang tidak mendapat pengobatan.

  • Alergi

Muncul akibat reaksi alergi yang bisa dipicu makanan tertentu, seperti telur, susu, gandum, kacang kedelai atau daging sapi. Selain makanan, reaksi alergi yang menimbulkan kondisi di atas bisa dipicu karena debu.

  • Infeksi

Keadaan ini disebabkan beberapa hal seperti infeksi bakteri, virus atau jamur pada jaringan esofagus atau kerongkongan. Infeksi bisa terjadi karena pasien memiliki daya tahan tubuh yang lemah, seperti menderita penyakit HIV, kanker dan diabetes.

  • Obat-obatan

Perlu diketahui jika esopaghitis bisa muncul karena dipicu oleh beberapa jenis obat, seperti antibiotik atau obat pereda nyeri. Bahkan peradangan yang muncul bisa dalam jangka waktu yang lama, kondisi ini juga dipicu karena kebiasaan seseorang menelan obat tanpa air.

Apabila kondisi ini sudah mengalami komplikasi hingga membuat kerongkongan menjadi sempit, dokter bedah saluran, cerna akan melakukan operasi untuk melebarkan kerongkongan ini kembali, kerongkongan yang menyempit bisa membuat makanan tersangkut ketika ditelan.

Categories
Penyakit

Angiotensin Converting Enzyme Inhibitors dan Tekanan Darah Tinggi

Hipertensi, atau biasa dikenal dengan sebutan tekanan darah tinggi, merupakan sebuah kondisi serius yang memengaruhi 1 dari 3 orang dewasa di Amerika Serikat. Kondisi ini dikarakterisasikan dengan pembacaan tekanan darah di atas 130/80 mmHg. Obat-obatan yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah disebut dengan istilah antihipertensi, yang tersedia dalam berbagai kelas, salah satunya adalah ACE inhibitor. ACE singkatan dari “angiotensin converting enzyme”. Obat-obatan ini menurunkan tekanan darah dengan cara membuat pembuluh darah relaks dan membuka, dan menyebabkan aliran darah lebih lancar. Sejak tahun 1981, ACE inhibitor diresepkan untuk merawat hipertensi. Hal tersebut disebabkan karena ACE inhibitor lebih mudah ditoleransi oleh tubuh. Obat ini biasanya diminum satu kali sehari, biasanya pada pagi hari. Obat ini juga dapat diresepkan bersamaan dengan diuretic atau penghambat saluran kalsium, yang mana juga digunakan sebagai obat perawatan tekanan darah tinggi.

Bagaimana ACE inhibitor bekerja?

ACE inhibitor memiliki 2 fungsi utama, yaitu mengurangi jumlah sodium yang tersimpan di ginjal, dan menghentikan produksi hormon yang bernama angiotensin II. Hormon ini biasanya menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Saat hormon angiotensi II tidak diproduksi, darah dapat mengalir lewa pembuluh darah dengan lebih efektif. Hal ini akan membantu pembuluh darah untuk relaks dan membesar, sehingga dapat mengurangi tekanan darah. Selain menurunkan tekanan darah, ACE inhibitor juga memiliki dampak yang positif terhadap kesehatan keseluruhan. Obat-obatan ini dapat memperlambat perkembangan penyakit ginjal dan atherosclerosis. Atherosclerosis adalah penyempitan arteri yang disebabkan karena penumpukan plak. ACE inhibitor juga telah dibuktikan bermanfaat untuk orang-orang yang menderita penyakit diabetes.

Efek samping ACE inhibitor

Kebanyakan orang dapat mentoleransi obat ini dengan baik. Namun, sama seperti obat-obatan lain, ACE inhibitor dapat menyebabkan beberapa efek samping bagi beberapa orang, seperti kelelahan, ruam, menurunnya kemampuan untuk merasa, batuk kering, tekanan darah rendah, dan pingsan. Dalam kasus yang jarang ditemukan, ACE inhibitor dapat menyebabkan bibir, lidah, dan tenggorokan membengkak, membuat Anda kesulitan bernapas. Hal ini kemungkinan akan terjadi pada orang-orang yang merokok. Apabila Anda adalah perokok aktif, konsultasi dengan dokter terlebih dahulu tentang risiko efek samping sebelum Anda menggunakan ACE inhibitor. Orang-orang dengan fungsi ginjal yang terganggu juga perlu berhati-hati menggunakan obat-obatan jenis ini. ACE inhibitor dapat meningkatkan level potassium. Hal ini dapat menyebabkan kegagalan ginjal pada orang-orang yang memiliki ginjal yang rusak. Karena risiko efek samping ini, ACE inhibitor biasanya tidak direkomendasikan untuk ibu hamil.

Beberapa obat-obatan penghilang rasa sakit OTC juga dapat mengurangi keefektifan ACE inhibitor. Pastikan Anda konsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan ibu profen, naproxen, dan obat antiperadangan nonsteroid lain. Minum obat-obatan tersebut saat Anda diresepkan ACE inhibitor mungkin tidak berbahaya apabila sesekali dilakukan. Namun, hindari konsumsi bersamaan secara teratur. Konsultasi dengan dokter apabila Anda memiliki kekhawatiran seputar potensi interaksi obat.

Sama seperti obat-obatan resep lain, Anda tidak boleh berhenti mengonsumsi angiotensin converting enzyme inhibitor kecuali atas anjuran dari dokter. Mungkin Anda akan sangat tertarik berhenti menggunakan obat tersebut setelah tubuh merasa baikan. Namun, terus menerus mengonsumsinya akan membantu menjaga tekanan darah dalam batas yang sehat. Apabila Anda menderita efek samping apapun, hubungi dokter terlebih dahulu sebelum Anda berhenti menggunakan obat. Efek samping tersebut dapat hilang setelah beberapa waktu. Dokter juga mungkin memiliki panduan khusus bagaimana menghentikan pengobatan.

Categories
Penyakit

9 Obat Populer Penurun Kolesterol Selain Simvastatin

Anda yang memiliki riwayat koleterol tinggi pastinya sudah terbiasa mengonsumsi obat penurun kolesterol seperti simvastatin. Obat berjenis statin ini merupakan salah satu obat terpopuler yang paling sering diresepkan dokter apabila hasil laboratorium menunjukkan ada memiliki kadar kolesterol tinggi di atas 200 miligram per desiliter.

Tingkat kolesterol yang tinggi baiknya tidak dibiarkan karena dapat menimbulkan beragam penyakit kronis. Mulai dari penyakit jantung koroner sampai serangan stroke, semua dapat berawal dari tingginya kadar kolesterol jahat di dalam darah Anda. Penggunaan obat seperti simvastatin sendiri dapat menjadi jalan cepat menurunkan kadar kolesterol jahat.

Namun selain obat tersebut, sebenarnya masih banyak obat lain yang kerap direkomendasikan dokter untuk memperbaiki kadar kolesterol dalam darah. Berikut ini adalah obat-obat yang populer diresepkan bagi penderita kolesterol tinggi.

  1. Atorvastatin

Atovastatin sebenarnya sama seperti simvastatin, yakni sama-sama merupakan obat berjenis statin yang bertujuan untuk menurunkan kadar kolesterol jahat di dalam tubuh. Namun selain itu, atorvastatin juga memiliki fungsi menurunkan kadar lemak dalam darah atau trigeserid. Atorvastin umumnya diberikan kepada penderita penyakit jantung ataupun pasien yang memiliki tekanan darah tinggi.

  • Colesevelam

Colesevelam merupakan obat penurun kolesterol berjenis resin. Obat ini membantu tubuh membuang kolesterol yang berlebih dengan cara mengikat empedu di usus Anda. Selain membuang kolesterol ektra, jenis obat yang satu ini juga dapat mengontrol kadar gula dalam darah sehingga kerap diresepkan kepada penderita diabetes tipe 2.

  • Fenofibrate

Banyak nama lain dari obat ini, seperti tricor, trilipix, ataupun triglide. Tidak seperti statin yang mampu menurunkan kadar kolesterol jagat, fenofibrate merupakan obat jenis fibrate yang berfungsi menaikkan kadar kolesterol baik sekaligus menurunkan trigeserida atau lemak dalam darah. Obat ini tidak dapat dibeli secara bebas. Anda baru bisa mendapatkannya jika memperoleh resep dokter.

  • Lopid

Sama seperti fenofibarate, lopid merupakan obat pengontrol kolesterol berjenis fibrate yang berfungsi menaikkan kadar kolesterol baik sekaligus menurunkan lemak dalam darah. Biasanya obat ini diresepkan untuk diminum sebelum sarapan dan makan malam dengan jeda waktu sekitar 30 menit sebelum Anda menyantap makanan.

  • Ezetimibe

Ezetimibe merupakan obat yang diresepkan dokter guna mengurangi kadar kolesterol dalam darah dengan cara menghambat penyerapan kolesterol. Namun, penggunaan obat ini umumnya tidak tunggal. Dokter akan memberi tambahan resep atorvastatin ataupun simvastatin guna menurunkan kadar kolesterol pasien terlebih dahulu.

  • Lovastatin

Sama seperti simvastatin, lovastatin merupakan obat jenis statin yang berfungsi menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Lovastatin biasa diresepkan kepada penderita kolesterol tinggi yang sudah tahunan. Ini karena sifat lovastatin yang lebih mengarha untuk obat jangka panjang. Waktu mengonsumsi lovastatin umumnya adalah setiap sebelum tidur.

  • Pravastatin

Satu lagi jenis obat penurun kolesterol berjenis statin adalah pravastatin. Obat ini dapat menjadi pilihan bagi Anda yang sibuk bekerja atau sedang dalam perjalanan jauh. Pasalnya, pravastatin dapat dikonsumsi tanpa didahului asupan makanan terlebih dahulu.

  • Niasin

Niasin merupakan olahan dari vitamin B3 yang juga kerap digunakan untuk penderita kolesterol tinggi. Obat ini mampu meningkatkan kadar kolesterol baik sekaligus menurunkan kadar kolesterol jahat. Umumnya niasin digunakan dengan pengombinasian menggunakan obat penurun kadar kolesterol lainnnya.

  • Rosuvastatin

Satu lagi obat berjenis statin yang manfaatnya seperti simvastatin. Namun, rosuvastatin memiliki dosis yang lebih tinggi. Penggunaan obat ini biasa ditujukan peada pasien-pasien yang memiliki faktor risiko besar terkena penyakit kardiovaskular.

***

Banyak bukan jenis obat pengontrol kadar kolesterol selain simvastatin. Jadi, jangan kaget jika tiba-tiba ketika berobat, dokter meresepkan obat selain simvastatin untuk mengatasi masalah kolesterol Anda yang tinggi, ya.

Categories
Penyakit

Masalah Pencernaan karena Bakteri Selain Penyakit Whipple

Mungkin sebagian besar masyarakat kita masih asing dengan penyakit whipple. Sebab memang jarang ditemui di Indonesia. Sementara itu, penyakit ini juga memang terbilang langka di mana hanya dialami oleh sekitar 1 dari 1 juta orang.

Orang yang terserang penyakit whipple dapat dideteksi lantaran dia mengeluhkan sesuatu di persendian atau sistem pencernaannya. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Tropheryma whipplei (T. whipplei) ini akan mengacaukan kinerja sistem cerna manusia.

Pada awalnya, bakteri ini akan menyerang lapisan mukosa usus kecil. Kemudian, bakteri tersebut akan memunculkan lesi (jaringan yang tumbuh secara abnormal) di dalam dinding usus. Bakteri ini juga dapat menyerang jaringan vili yang melapisi usus halus.

Kemudian, bakteri yang telah berkembang di dalam tubuh inangnya itu akan mulai mengganggu proses pemecahan lemak dan karbohidrat di dalam tubuh sehingga menghambat kemampuan tubuh dalam menyerap nutrisi.

Karena tubuh korban tak mampu lagi menyerap nutrisi, tentunya keseimbangan tubuh korban akan terganggu. Pada akhirnya, banyak anggota tubuh yang tak mampu lagi bekerja dengan baik dan mulai menyebabkan masalah-masalah kesehatan lain yang memperparah kondisinya.

Pencernaan manusia memang rentan sekali mengalami masalah kesehatan. Sebab dia bertugas menerima makanan atau minuman dari luar tubuh. Kenyataan bahwa ada banyak sekali kemungkinan semua itu telah terkontaminasi oleh sesuatu yang berbahaya, membuat pencernaan menjadi “sarang penyakit”.

Selain penyakit whipple, ada beberapa masalah kesehatan yang terjadi di pencernaan oleh sebab terinfeksi bakteri. Beberapa di antaranya adalah:

  • Diare

Diare merupakan salah satu gangguan sistem pencernaan yang banyak dialami. Di mana gangguan pencernaan ini akan membuat perut terasa mulas dan feses penderita menjadi encer. Gangguan ini terjadi karena selaput dinding usus besar si penderita mengalami iritasi.

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang menderita diare, di mana salah satunya yaitu karena penderita mengkonsumsi makanan yang tidak higenis atau mengandung kuman, sehingga dengan begitu gerakan peristaltik usus menjadi tidak terkendali serta di dalam usus besar tidak terjadi penyerapan air.

Jika fases penderita bercampur dengan nanah atau darah, maka gejala tersebut menunjukan bahwa si penderita mengalami desentri yang mana gangguan itu disebabkan karena adanya infeksi bakteri Shigella pada dinding usus besar orang yang menderitanya.

  • Gastritis

Gastritis merupakan penyakit atau gangguan di mana dinding lambung mengalami peradangan. Meski umumnya kondisi kesehatan ini disebabkan karena kadar asam klorida atau Hcl terlalu tinggi, tetapi tak sedikit kasus terjadi lantaran infeksi bakteri melalu makanan yang tidak higienis.

Penyakit ini cenderung kompleks. Sebab gejalanya bisa membuat seluruh sistem pencernaan terganggu. Mulai dari perut kembung hingga muntah darah. Kondisi ini terbilang serius dan harus mendapat penanganan segera.

  • Leptospirosis

Penyakit ini sebenarnya memang tidak murni menyerang sistem pencernaan, sama seperti penyakit whipple. Namun, gejalanya bisa meluas sampai ke sana. Salah satu gejala yang biasa terjadi ketika seseorang terserang leptospirosis adalah sakit perut dan diare. Selain itu, sering juga penderita mengalami mual dan muntah-muntah.

Tikus sering dijumpai sebagai media penyebaran penyakit leptospirosis. Penyakit ini sebenarnya disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Penyakit akibat infeksi bakteri ini harus ditangani secara intensif agar benar-benar sembuh. Sebab, komplikasinya bisa menyebabkan penyakit yang lebih serius seperti gagal ginjal, meningitis, dan kerusakan organ-organ tubuh lainnya.

***

Penyakit whipple memang amat jarang ditemui, tidak seperti masalah-masalah pencernaan lain. Namun, kenyataan itu bukan berarti membuat kita boleh menyepelekannya. Teknis pengobatan yang belum begitu memadai untuk penyakit ini juga harus dijadikan pertimbangan. Lebih baik melakukan berbagai macam upaya pencegahan agar tidak harus repot di kemudian hari. Memastikan makanan yang kita makan higienis adalah cara terbaik terhindar dari risiko penyakit ini.

Categories
Penyakit

Teknik Pengobatan Reduksi Manual untuk Parafimosis

Pernahkah Anda mendengar penyakit parafimosis? Penyakit parafimosis merupakan salah satu kelainan pada organ reproduksi pria, yaitu penis. Penyakit ini terjadi ketika kulup atau kulit kepala penis terperangkap di belakang kepala penis (glans penis) dan tidak bisa balik ke posisi semula setelah ditarik. Akibatnya, sirkulasi darah ke organ penis pun terganggu. Penyakit ini bersifat akut, sehingga harus cepat ditangani. Namun, bisa bersifat kronis, jika tidak segera diobati.

Seberapa umumkah parafimosis ini terjadi?

Dilansir dari Medscape, sebagian besar pria yang tidak disunat di Amerika Serikat rentan mengalami parafimosis. National Hospital Discharge Survey (NHDS) menyatakan bahwa tingkat sunat di Amerika Serikat menurun dari 78 – 80 persen pada tahun 1960-an menjadi 55 – 60 persen pada tahun 2003. Merujuk pada sebuah artikel review yang diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran (2017), prevalensi kasus parafimosis pada anak laki-laki yang tidak disunat adalah 0,7 persen dan sekitar 1 – 5 persen pada remaja laki-laki yang berusia kurang dari 16 tahun.

Sebenarnya, parafimosis lebih jarang terjadi dibandingkan dengan fimosis. Penyakit ini hanya menyerang laki-laki yang belum disunat, baik itu pada anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Umumnya, parafimosis terjadi saat tenaga kesehatan tidak menangani bagian kulup penis dengan benar, misalnya tidak mengembalikan bagian kulup ke posisi semula setelah pemeriksaan fisik atau prosedur medis tertentu.

Parafimosis dan kaitannya dengan hal mistis

Karena parafimosis hanya dialami oleh pria yang belum disunat, banyak yang mengatakan kondisi ini terjadi karena ‘disunat jin’. Pasalnya, bentuk penis seseorang yang mengalami parafimosis seperti sudah disunat, padahal jelas-jelas dirinya belum pernah disunat sama sekali. Alhasil, seolah-olah penisnya disunat oleh jin.

Hal ini tidaklah benar, karena banyak faktor yang menyebabkan parafimosis terjadi. Selain karena kesalahan dari tenaga kesehatan dalam menangani bagian kulup penis pasca menjalani pemeriksaan atau operasi tertentu, beberapa penyebab parafimosis lainnya, yaitu:

  • Tidak disunat atau disirkumsisi.
  • Adanya infeksi.
  • Trauma fisik pada area organ reproduksi.
  • Menarik kulup ke belakang terlalu kuat.
  • Memiliki kulup yang lebih ketat dari umumnya.
  • Kulup telah ditarik ke belakang dalam waktu yang lama.
  • Dermatitis kontak, misalnya dari lotion celandine.

Teknik pengobatan reduksi manual untuk parafimosis

Umumnya, gejala parafimosis adalah muncul rasa nyeri, ujung penis bengkak dan kemerahan, nyeri saat buang air kecil, aliran urin menurun, dan bagian kulup tidak dapat ditarik kembali ke posisi normal.

Jika Anda mengalami hal seperti ini, maka segeralah bawa ke rumah sakit untuk diobati dengan cepat, agar tidak menimbulkan komplikasi yang lebih parah. Dokter dan tim medis lainnya akan segera melakukan tindakan pengobatan reduksi manual dengan tahapan sebagai berikut.

  • Kontrol nyeri.

Anda akan diberikan analgesia yang cukup dan anestesi lokal dengan lidokain, bupivicaine, atau kombinasi keduanya yang disuntikkan pada area kulup penis. Adapun, epinefrin tidak boleh disuntikkan. Hal ini untuk mengontrol rasa nyeri dan membuat Anda lebih nyaman.

  • Reduksi manual.

Setelah kontrol nyeri, Anda akan diberikan tindakan reduksi manual untuk mengeluarkan cairan edema di sepanjang batang penis yang menyebabkan pembengkakan. Tindakan reduksi manual yang dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

  1. Mengompres kulup dengan es secara melingkar selama 5 menit.
  2. Memijat ringan di area glans penis sekitar 5 menit.
  3. Mendorong glans penis dengan kedua ibu jari dan menarik kembali kulup secara perlahan ke posisi semula dengan jari-jari lainnya.
  4. Terkadang, dokter juga ada yang menggunakan bantuan penjepit untuk menarik kulup. Namun, harus digunakan secara hati-hati, karena dapat menghancurkan kulit dan menyebabkan nekrosis jaringan.
  5. Setelah posisi kulup berhasil dikembalikan, Anda akan diberikan antibiotik.
  6. Setelah peradangan berkurang, maka tindakan sirkumsisi dapat dilakukan untuk mencegah parafimosis terjadi lagi.

Dalam beberapa kasus parafimosis, Anda juga bisa diberikan penanganan dorsal slit untuk menghancurkan kulup menggunakan hemostat selama 30 – 60 detik. Metode ini dilakukan jika tindakan reduksi manual gagal.

Terlepas dari apapun metode yang digunakan, pengobatan dan pencegahan parafimosis yang baik adalah dengan melakukan sunat atau sirkumsisi. Selalu ikuti saran dan instruksi dari dokter Anda terkait pengobatan terbaik untuk menangani penyakit parafimosis yang Anda alami.

Categories
Penyakit

11 Kondisi Medis Ini Bisa Menyebabkan Perut Kedutan

Perut kedutan? Memang bisa? Mungkin bagi sebagian dari Anda di sini masih terdengar aneh dengan perut kedutan. Perut kedutan sebenarnya sering kali dialami oleh para ibu hamil, yang dianggap karena adanya pergerakan janin di dalam rahim. Namun, ternyata tidak hanya terjadi pada bumil saja, lho. Perut kedutan juga bisa terjadi pada Anda yang memiliki kondisi medis tertentu. Apa saja itu? Yuk, langsung cari tahu di bawah ini!

Faktor-faktor penyebab perut kedutan.

Perut berkedut adalah kondisi adanya kontraksi otot di perut atau bagian saluran pencernaan, seperti lambung dan usus. Penyebabnya bisa dipicu oleh kondisi medis tertentu, seperti:

  • Penyakit radang usus.

Penyakit radang usus, seperti penyakit Crohn dan kolitis ulseratif, adalah kondisi peradangan kronis. Penyakit Crohn dapat memengaruhi bagian manapun dari saluran pencernaan, sedangkan kolitis ulseratif hanya mempengaruhi usus besar. Kedua kondisi peradangan ini dapat menyebabkan kejang usus yang akhirnya berujung dengan perut kedutan.

  • Sindrom iritasi usus besar.

Sindrom iritasi usus besaratau irritable bowel syndrome (IBS) adalah kondisi kronis yang memengaruhi usus besar. Penyakit ini juga dapat menyebabkan perut kedutan. Selain itu, gejala lain yang mungkin Anda rasakan adalah kembung, sembelit, diare, dan perut bergas.

  • Gastritis dan gastroenteritis.

Gastritis dan gastroenteritis sama-sama merupakan kondisi radang lambung. Hanya saja, pada gastroenteritis, usus juga ikut mengalami peradangan. Tidak jarang, keduanya juga menyebabkan perut kedutan. Biasanya, penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, seperti Helicobacter pylori, virus Norwalk, dan rotavirus.

  • Kolitis ulseratif.

Kolitis ulseratif adalah radang pada usus besar yang bersambungan dengan rektum, sehingga menyebabkan kram perut. Perut jadi mengalami kejang dan kedutan. Jenis bakteri penyebab penyakit kolitis ini, meliputi Salmonella, Clostridium, dan E. coli. Selain itu, kelompok parasit seperti Giardia juga dapat menyebabkan kolitis.

  • Enteritis dan kolitis iskemik.

Penyakit kolitis disebabkan karena kurangnya suplai darah ke usus kecil dan usus besar disebut dengan kolitis iskemik. Jenis kolitis ini juga dapat menyebabkan otot-otot perut kejang dan mengalami kedutan. Begitu pula dengan enteritis, yaitu peradangan pada usus halus.

  • Sembelit.

Jika Anda mengalami sembelit, usus Anda mungkin jadi kram karena membengkak. Hal ini terjadi sebagai respons terhadap tekanan yang tinggi di dalam usus. Jadinya, Anda mengalami perut kedutan.

  • Ileus.

Ileus adalah kondisi di mana usus Anda menjadi diam atau tidak aktif menjalankan fungsinya. Hal ini dapat disebabkan oleh infeksi, peradangan, baru saja operasi perut, penggunaan narkotika, dan kurangnya aktivitas fisik. Ileus akan menyebabkan usus jadi terisi dengan udara dan cairan, sehingga mengakibatkan rasa nyeri dan perut kedutan.

  • Gastroparesis.

Gastroparesis pada dasarnya adalah ileus yang juga melibatkan lambung. Kondisi ini sering dialami oleh penderita diabetes dan dapat menyebabkan kram perut terutama setelah makan. Tidak heran, Anda yang memiliki diabetes sering mengalami perut kedutan.

  • Ketegangan otot.

Biasanya, ini sering terjadi pada orang yang sering berolahraga berat, terutama sit up. Akibatnya, otot-otot perut jadi kejang karena mengalami ketegangan otot. Gejala lainnya yang mungkin Anda rasakan adalah nyeri di bagian perut dan dapat bertambah parah dengan gerakan olahraga yang semakin intens.

  • Penumpukan gas di perut.

Adanya penumpukan gas di perut dapat menyebabkan otot usus jadi kejang, terutama ketika tubuh mencoba mengeluarkan gas. Alhasil, Anda pun mengalami perut kedutan. Gejala lainnya adalah perut buncit atau kembung, terasa kenyang, sakit perut, dan sering buang angin atau bersendawa.

  • Dehidrasi.

Seseorang bisa mengalami dehidrasi karena keringat, muntah, dan diare yang dapat menyebabkan kejang otot di seluruh tubuh, termasuk perut. Ini terjadi karena otot membutuhkan elektrolit, seperti kalsium, kalium, dan magnesium agar dapat bekerja dengan baik.

Sementara itu, jika mengalami dehidrasi, maka Anda akan kehilangan banyak elektrolit. Akibatnya, Anda bisa mengalami perut kedutan, karena otot bekerja secara tidak normal dan mengalami kejang.

Inilah 11 kondisi medis yang dapat menyebabkan perut kedutan. Kebanyakan kondisi ini tidak berbahaya dan dapat hilang tanpa pengobatan. Namun, jika kejang perut terlalu sering dan terasa sakit, bisa jadi ini pertanda adanya gangguan yang lebih serius. Segeralah temui dokter jika gejala yang dirasakan semakin parah hingga mengganggu aktivitas Anda sehari-hari.

Categories
Penyakit

Jenis-Jenis Herpes Genitalis yang Dibedakan Berdasarkan Gejalanya

Menggunakan kondom saat berhubungan seks menjadi cara utama pencegahan herpes genitalis

Organ seksual manusia menjadi salah satu bagian yang rentan terserang infeksi oleh jasad renik, mulai dari bakteri atau kuman sampai virus. Penyebab dan jenis gangguan medis bisa beragam, tergantung apa pemicunya. Kondisi medis yang menyerang alat vital itu dimasukkan ke dalam satu kelompok yang disebut Infeksi Menular Seksual (IMS),  satu yang paling umum adalah herpes genitalis.

Kondisi ini, termasuk gejala dan keluhannya, tidak jauh berbeda dengan herpes-herpes yang terjadi di bagian lain. Seperti namanya, yang membedakan hanya letak terjadinya infeksi, yakni di organ genital atau organ intim.

Herpes genitalis terjadi ketika seseorang melakukan kontak, baik itu antarkelamin atau sebagainya, dengan penderita yang telah terinfeksi virus herpes simplex (HSV) tipe 2.  Herpes genitalis tidak dapat menimbulkan kematian. Namun, penyakit ini merupakan penyakit kronis yang dapat kambuh secara periodis dan tidak dapat disembuhkan. 

Sekali terinfeksi dengan virus HSV, maka penderita seperti “meneken kontrak” seumur hidup dengan virus itu. Sampai sekarang, belum ada obat yang dapat memusnahkan virus yang bersembunyi di dalam tubuh penderita. 

Virus HSV dapat memasuki kondisi dorman (tidak aktif) dan berdiam diri di sistem saraf, tepatnya ganglia dorsalis, dalam jangka waktu yang lama. Saat sistem imun menurun, virus akan kembali aktif dan memicu gejala kambuhan.

Meski sekilas terlihat sama saja, tetapi herpes genitalis memiliki beberapa jenis yang berbeda satu dengan lainnya. Jenis herpes genitalis ini dapat dibedakan berdasarkan kemunculan gejala dan terbagi menjadi empat jenis, di antaranya: 

 

  • Herpes Genitalis Asimtomatik 

 

Seseorang yang berada pada tahap ini hanya dapat dikenali melalui pemeriksaan darah. Pasalnya, ini merupakan kondisi di mana seseorang telah terjangkiti virus HSV, tetapi belum menunjukkan gejala primer. Singkatnya, ini adalah fase pertama dalam herpes genitalis.

 

  • Herpes Genitalis Primer

 

Herpes genitalis jenis ini merupakan kondisi yang terjadi pasca-kontak pertama kali dengan virus HSV. Kondisi ini ditandai dengan kemunculan berbagai gejala dan nyeri pada kulit. Seseorang yang baru saja terinfeksi bisa merasakan sakit, gatal, dan adanya luka di area genital mereka. Bahkan tak jarang penderita akan mengalami demam, tidak enak badan, sakit kepala, dan lainnya.

 

  • Herpes Genitalis Rekurens (Kambuhan) 

 

Jenis herpes genitalis ini merupakan kondisi yang terjadi setelah gejala primer hilang dengan pengobatan. Kondisi ini ditandai gejala ringan, tetapi dapat kembali muncul. Kekambuhan ini dipicu oleh menurunnya daya tahan tubuh, stres, atau trauma.

  1. Herpes Genital Atipik (Tidak Khas) 

Jenis ini merupakan kondisi yang tidak menunjukkan gejala-gejala seperti umumnya. Kondisi ini terjadi pada 60 persen kasus herpes genitalis, sehingga menjadikannya sulit diidentifikasi. Kondisi ini hanya bisa dikenali dengan uji laboratorium, seperti pemeriksaan antibodi IgM dan IgG.

***

Seseorang yang telah memiliki virus tersebut dalam jangka waktu lama sebenarnya tidak terlalu dapat menulari virus tersebut daripada orang yang baru saja terinfeksi. Secara umum, wanita lebih berisiko terinfeksi virus ini dibanding pria. 

Dalam suatu studi terhadap orang yang menderita herpes genital, 5-10% pasangannya menjadi terinfeksi pula. Seperti yang telah disinggung di awal bahwa hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan herpes genitalis secara tuntas. Obat-obatan yang umum digunakan seperti Acyclovir, Valcyclovir, dan Famcyclovir hanya dapat menurunkan tingkat kekambuhan dan kemunculan gejala. 

Oleh karenanya menjadi penting bagi semua orang yang telah aktif secara seksual untuk melakukan prosedur pencegahan herpes genitalis ini. Melakukan hubungan seksual yang aman merupakan upaya preventif utama agar tak tertular penyakit ini.