Categories
Kesehatan Mental

Tanda Stres Pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Stres adalah cara tubuh merespon hal atau sesuatu yang dirasa sulit untuk dihadapi. Keluhan ini merupakan hal yang normal dialami dan dirasakan sebenarnya, namun pada beberapa orang stres justru membuatnya benar-benar terganggu, sulit diatasi, dan bahkan mampu memicu masalah kesehatan. Kondisi ini kerap kali terjadi pada remaja. Hal ini dibuktikan oleh sebuah studi tahun 2018 yang mengatakan bahwa tingkat kecemasan dan depresi anak remaja hingga 17 tahun terus meningkat dan naik persenanan nya dari tahun ke tahun. Penyebabnya bisa beragam. Masalah sosial, persoalan akademiknya di sekolah, hingga hubungan yang tidak baik dengan keluarga atau orang terdekat adalah beberapa diantaranya. 

Wanita berjongkok di timbangan

Tanda stres pada remaja

Stres pada remaja bisa dilihat dari tanda-tanda yang muncul pada diri remaja seperti bagaimana perilakunya, emosi, kondisi fisik, hingga pemikiran sang anak. Jika remaja mengalami beberapa tanda berikut, sebaiknya orang tua berhati-hati sebab bisa jadi anak mengalami masalah stres:

1. Perilaku anak berubah drastis, dapat ditandai dengan:

– Tidak lagi memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang biasanya anak nikmati.

– Tidak ingin sekolah, atau sama sekali tidak berprestasi di sekolah

– Sering gugup dan cemas

– Makan terlalu sedikit atau bahkan terlalu banyak

– Jam tidur yang tidak teratur dan berantakan

– Penggunaan kafein berlebihan

– Minum obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas tanpa pengawasan

– Penyalahgunaan alkohol

– Berperilaku lebih agresif dari biasanya

2. Perubahan emosi, ditandai dengan:

– Sering murung

– Kerap menangis dan merasa sedih secara tiba-tiba

– Sering merasa putus asa

– Kerap merasa bahwa semua yang dikerjakan tidak berjalan dengan baik sesuai keinginannya

– Emosi yang tak stabil

– Merasa sangat sulit untuk bersantai

– Terobsesi dengan media sosial setiap saat

3. Mengalami gangguan pada fisiknya, ditandai dengan:

– Sering mengalami masalah perut

– Pusing dan sakit kepala

– Sering masuk angin

– Berat badan anak tak stabil (terkadang turun kemudian cepat kembali naik)

– Sering mengalami serangan panik

– Nafas tak teratur

– Mengalami masalah pada hormon (gangguan menstruasi)

4. Cara berfikir, ditandai dengan:

– Sulit untuk berkonsentrasi atau fokus pada suatu hal

– Mudah lupa

– Lebih sering mengatur

– Terlalu mudah membuat dan menilai keputusan tanpa memikirkan 

Bagaimana cara mengatasinya?

Sebenarnya ada banyak cara untuk mengatasi stres ketika sudah terdapat tanda stres pada remaja. Pertama, diperlukan yang namanya manajemen stres kemudian bantu dengan peran orang tua dan kerabat. Kedua cara ini merupakan langkah penting yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi stres pada remaja. Langkah untuk melakukan manajemen stres:

Manajemen Stres

Manajemen stres dapat dilakukan dengan mulai memperbaiki gaya hidup remaja. hal ini dilakukan agar kondisi fisik dan psikis remaja dapat pelan-pelan membaik seiring dilakukannya manajemen stres.

  • Perbaiki kualitas tidur

Tidur memiliki peranan penting bagi fisik maupun psikis. Remaja diatas 12 tahun setidaknya membutuhkan 8-10 jam tidur setiap harinya agar jam tidurnya tercukupi. Selain jam tidur, dibutuhkan juga ruangan yang nyaman dan bersih, lampu yang cenderung redup, serta menghentikan penggunaan gadget beberapa jam sebelum tidur. Berbagai hal tersebut dilakukan agar anak memiliki kualitas tidur yang lebih baik sehingga kondisi fisik maupun psikisnya yang mulai dipengaruhi oleh stres dapat jadi lebih baik.

  • Olahraga

Aktivitas fisik seperti olahraga ternyata memiliki peranan yang baik dalam redakan stres. Itulah mengapa olahraga dapat dijadikan salah satu cara terbaik untuk mengatasi masalah stres hingga depresi. Setidaknya, anak harus meluangkan waktu 30 menit hingga 1 jam setiap harinya untuk melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga atau sekedar membantu membereskan pekerjaan rumah agar stres sedikit terbantu dan teralihkan akibat aktivitas fisik yang dikerjakan.

  • Sharing dan berbagi keluh kesah 

Meski awalnya merasa tidak nyaman karena membicarakan kondisi stres dengan orang lain, nyatanya berbagi keluh kesah dengan orang terdekat setidaknya sedikit membantu anak untuk membagikan dan meluapkan tentang apa yang ia rasakan. Tak hanya itu, pendengar juga bisa memberi arahan dan solusi karena ia dapat melihat dari berbagai perspektif. 

  • Lakukan hal yang disukai

Sama seperti orang dewasa, remaja juga dapat melakukan apa yang mereka sukai untuk meredakan stresnya. Bermain dengan teman sekolah diluar jam sekolah, bermain musik, hingga melakukan hobi terpendam bisa anak lakukan. Yang terpenting adalah, pastikan hal yang disukai anak adalah hal-hal positif yang juga bisa membantunya meredakan stresnya.  

  • Tuliskan perasaan positif lewat tulisan

Menuangkan perasaan yang dialami secara tertulis juga mampu mengurangi tekanan pada mental seseorang. Anak tak boleh terus berfokus pada rasa stres yang ia rasakan, namun cobalah untuk menuliskan kejadian serta momen-momen positif yang masih terjadi dan harus disyukuri oleh anak. Dengan menulisnya, stres serta kecemasan yang anak hadapi dapat sedikit diredam.

Lalu bagaimana dengan peran orangtua?

Orangtua serta kerabat lainnya juga memiliki peran yang penting dalam mengatasi stres yang dialami remaja. Sebab dibutuhkan kerja sama yang baik agar kondisi anak dapat pelan-pelan teratasi. 

  1. Lakukan pendekatan dengan orang terdekat anak

Jika anak masih kurang terbuka dengan apa yang ia alami dan rasakan, orang tua bisa coba lakukan pendekatan dengan orang terdekat anak seperti sahabatnya di sekolah, teman lesnya, atau bahkan pengasuh anak untuk membicarakan dan menanyai kondisi anak sehingga orang tua lebih mengerti kondisinya. 

  1. Berikan arahan namun tetap percayakan anak untuk mengatasinya

Wajar jika orangtua ingin terus berupaya membantu anak dengan ikut andil dalam berbagai persoalan yang dihadapi anak. Namun jika hal ini terus terjadi, anak akhirnya malah tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari masalah serta mengambil keputusan dengan baik. Sebagai orangtua, Anda cukup memberikan arahan yang baik serta dibutuhkan anak dan biarkan anak memiliki kepercayaan diri untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

  1. Berikan arahan tentang penggunaan gadget

Kebanyakan remaja hanya menggunakan gadget untuk menghabiskan waktu di media sosial setiap hari. Tak jarang kegiatan tersebut akhirnya mempengaruhi cara anak untuk berperilaku. Sebagai orang tua, melarang anak bermain gadget mungkin tak bisa menghasilkan apa-apa. Yang bisa Anda lakukan adalah ajak anak melakukan hal-hal yang ia suka secara teratur seperti menemaninya mengerjakan hobi barunya agar dampak penggunaan gadget secara terus menerus dapat diminimalisir. 

  1. Terus suport anak

Remaja seringkali mudah terpengaruh dalam pemikiran-pemikiran negatif. Contohnya, saat anak mencoba suatu hal yang baru yang ia tak pernah lakukan sebelumnya, beberapa remaja justru cenderung takut atau bahkan pesimis padahal belum sama sekali memulainya. Sebagai orangtua, Anda harus terus mensupport anak jika keinginan anak memang masih positif. Memberikan support pada anak membuatnya merasa jauh lebih didukung sehingga jadi lebih terhindar dari perasaan stres atau depresi. 

Tanda stres pada remaja sedikit banyak mungkin terlihat berbeda dengan tanda stres pada orang dewasa. Untuk itu, orang tua harus terus tanggap dan bisa melihatnya dengan cermat. Jika memang ditemukan tanda stres, segera bantu anak untuk melakukan manajemen stres dengan baik dan jangan lupa terus berikan support terbaik untuknya. jika diperlukan, Anda juga bisa meminta bantuan psikolog agar tanda stres bisa dikenali dan diatasi dengan tepat.

Categories
Kesehatan Mental

Ketakutan Berlebihan Bisa Membuat Masalah Bagi Anda

Gangguan panik adalah ketakutan berlebihan yang ditandai dengan serangan panik spontan dan tak terduga, menurut Anxiety and Depression Association of America (ADAA). Serangan panik adalah episode ketakutan intens yang tiba-tiba yang juga menampilkan gejala fisik, menurut National Institute of Mental Health (NIMH). Orang yang mengalami gangguan panik sangat khawatir akan mengalami serangan panik lagi. Mereka sering mencoba untuk mencegah serangan di masa depan dengan menghindari tempat, situasi, atau perilaku yang mereka kaitkan dengan serangan panik. Akibatnya, gangguan panik secara signifikan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. 

Tanda dan Gejala Gangguan Panik

Gejala khas gangguan panik adalah ketakutan terus-menerus akan serangan panik di masa depan, menurut American Psychological Association (APA). Jika Anda mengalami empat atau lebih serangan panik, terutama jika Anda pernah mengalami serangan panik dan terus-menerus khawatir akan serangan berikutnya, Anda mungkin mengalami gangguan panik.

Serangan panik mencakup setidaknya empat dari gejala berikut, menurut ADAA: 

  • Palpitasi, detak jantung berdebar, atau detak jantung yang dipercepat
  • Berkeringat
  • Gemetar atau gemetar
  • Merasa seperti Anda sesak napas atau tercekik
  • Sensasi tersedak
  • Nyeri dada atau ketidaknyamanan
  • Mual atau masalah pencernaan
  • Merasa pusing, goyah, pusing, atau pingsan
  • Rasa dingin atau panas
  • Sensasi mati rasa atau kesemutan
  • Perasaan tidak nyata atau terlepas dari diri sendiri
  • Takut kehilangan kendali atau “menjadi gila”
  • Takut mati

Selain gejala di atas, serangan panik biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Itu terjadi tiba-tiba, dan tidak ada cara bagi Anda untuk menghentikannya. 
  • Ketakutan Anda tidak masuk akal atau berlebihan mengingat situasi yang sebenarnya.
  • Serangan panik biasanya memuncak dalam 10 menit atau kurang dan kemudian mulai berlalu.  Tetapi serangan dapat terus berulang selama berjam-jam. 

Penyebab dan Faktor Risiko Gangguan Panik

Penyebab pasti gangguan panik tidak jelas. Tetapi ada beberapa bukti untuk teori-teori berikut, menurut APA:

Transisi kehidupan Peristiwa besar dalam hidup, seperti lulus kuliah, menikah, atau memiliki anak pertama, tampaknya terkait dengan gangguan panik. Kehilangan atau perpisahan baru-baru ini dari orang yang dicintai juga telah dikaitkan dengan gangguan panik.

Predisposisi genetik Jika Anda memiliki anggota keluarga yang memiliki gangguan panik, Anda memiliki peningkatan risiko memilikinya sendiri, terutama selama masa-masa stres dalam hidup Anda.

Kerusakan biologis ketakutan berlebihan juga bisa disebabkan oleh kerusakan biologis, tetapi penelitian lebih lanjut perlu dilakukan.

Kombinasi fisik dan psikologis Seseorang mungkin mengalami gejala fisik sebagai awal serangan panik dan sebagai akibatnya mengalami serangan panik yang sebenarnya. Misalnya, jika Anda memiliki detak jantung yang berpacu karena minum kopi, berolahraga, atau minum obat dan Anda merasa mengalami serangan panik, Anda mungkin memicu serangan panik yang sebenarnya.

Faktor risiko

Menurut Mayo Clinic, faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalami serangan panik atau gangguan panik meliputi:

  • Stresor kehidupan utama, seperti ketika orang yang dicintai sakit parah
  • Peristiwa traumatis seperti kekerasan seksual atau kecelakaan serius serious
  • Merokok atau asupan kafein yang berlebihan
  • Dilecehkan secara fisik atau seksual di masa kanak-kanak

Bagaimana Gangguan Panik Didiagnosis?

Untuk mendiagnosis gangguan panik, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, mencantumkan kriteria berikut:

  • Anda mengalami serangan panik yang berulang dan tidak terduga.
  • Setidaknya satu serangan Anda telah diikuti oleh satu bulan atau lebih kekhawatiran yang terus-menerus tentang serangan lain atau konsekuensi dari serangan, atau perubahan signifikan dalam perilaku Anda terkait dengan serangan tersebut.
  • Serangan panik Anda bukan karena penggunaan obat atau penyalahgunaan zat, kondisi medis, atau gangguan kesehatan mental lainnya.

Per Mayo Clinic, untuk menentukan apakah Anda memiliki gangguan panik, dokter Anda dapat melakukan:

  • Pemeriksaan fisik
  • Tes darah untuk memeriksa tiroid Anda dan kemungkinan kondisi lain yang dapat menyebabkan gejala serupa similar
  • Tes pada jantung Anda, seperti elektrokardiogram (EKG atau EKG)
  • Sebuah evaluasi psikologis

Dokter Anda mungkin juga bertanya tentang alkohol atau penggunaan zat lain, dan meminta Anda mengisi penilaian diri psikologis atau kuesioner.

Pilihan Pengobatan dan Pengobatan untuk Gangguan Panik

Konsensus di antara para ahli adalah bahwa konsultasi dengan terapis berlisensi adalah cara terbaik untuk mulai mengatasi gangguan panik. Dalam beberapa kasus, obat-obatan juga dapat digunakan.

Psikoterapi, khususnya jenis tertentu yang dikenal sebagai terapi perilaku kognitif (CBT), adalah pengobatan lini pertama yang efektif untuk gangguan panik. CBT mengajarkan Anda berbagai cara untuk bereaksi terhadap perasaan takut dan gejala fisik yang disebabkan oleh serangan panik.

Dengan CBT, terapis Anda akan bekerja dengan Anda untuk secara bertahap mensimulasikan serangan panik di lingkungan yang aman. Seiring waktu, gejala fisik serangan panik tidak lagi terasa berbahaya, dan serangan itu akan mulai menghilang. Jika Anda menghindari situasi apa pun karena takut akan memicu serangan panik, CBT juga dapat membantu.

Pilihan Obat

Meskipun terapi adalah pengobatan pilihan untuk gangguan panik, obat-obatan terkadang digunakan. Paling sering ini adalah obat antidepresan dan anti-kecemasan. Terkadang, obat jantung (seperti beta-blocker) digunakan untuk mengontrol detak jantung yang tidak teratur.

Benzodiazepin, yang merupakan obat penenang, dapat mengurangi gejala panik, tetapi juga dapat menyebabkan toleransi dan ketergantungan, jadi dokter Anda mungkin meresepkannya hanya untuk waktu yang singkat jika Anda membutuhkannya.

Terapi Alternatif dan Pelengkap

Teknik relaksasi seperti latihan pernapasan dan visualisasi positif dapat membantu orang dengan gangguan panik “mengalir” serangan panik. Orang dengan gangguan panik mungkin memiliki tingkat pernapasan yang sedikit lebih tinggi dari rata-rata, dan belajar untuk memperlambat laju ini dapat membantu mereka mengatasi ketakutan berlebihan dan mencegah serangan di masa depan. Selain itu, menemukan kelompok pendukung dengan orang lain yang juga memiliki gangguan panik dapat sangat membantu beberapa orang bila digunakan bersama dengan pengobatan.

Categories
Kesehatan Mental

Punya Gejala Skizofrenia? Tanya Dokter Jiwa Segera

Skizofrenia adalah sebuah penyakit mental serius di mana seseorang mengartikan kenyataan dengan tidak normal. Skizofrenia dapat menyebabkan kombinasi antara halusinasi, delusi, dan perilaku atau pikiran yang sangat terganggu yang dapat mempengaruhi fungsi atau aktivitas sehari-hari. Orang-orang dengan skizofrenia membutuhkan perawatan seumur hidup. Jika Anda atau keluarga menunjukkan tanda-tanda skizofrenia, segera tanya dokter jiwa seputar diagnosa dan perawatan. Perawatan dini dapat membantu menjaga gejala yang timbul tetap terkontrol sebelum komplikasi serius berkembang dan dapat membantu meningkatkan harapan hidup jangka panjang.

Apakah Berobat Kesehatan Jiwa Ditanggung BPJS Kesehatan?

Gejala yang perlu diperhatikan

Jika Anda menderita gejala skizofrenia, segera tanya dokter jiwa untuk mendapatkan diagnosa dan perawatan. Skizofrenia melibatkan beragam gangguan berpikir (kognisi), perilaku, dan emosi. Tanda dan gejala tersebut dapat bervariasi, namun biasanya melibatkan delusi, halusinasi, atau berbicara dengan tidak teratur, yang nantinya mengganggu kemampuan untuk berfungsi. Gejala skizofrenia di antaranya adalah:

  • Delusi. Ini adalah kepercayaan palsu yang tidak berdasar pada kenyataan. Misalnya, Anda berpikir Anda disakiti atau dilecehkan; beberapa sikap atau komentar yang ditujukan untuk Anda; Anda merasa memiliki keterampilan atau ketenaran yang besar; orang lain jatuh cinta pada Anda; dan kejadian besar akan terjadi. Delusi terjadi pada kebanyakan orang yang menderita skizofrenia. 
  • Halusinasi. Kondisi ini biasanya melibatkan melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata adanya. Namun, bagi orang-orang yang menderita skizofrenia, mereka mendapatkan dampak layaknya pengalaman normal. Halusinasi dapat mempengaruhi semua panca indera, namun mendengar suara merupakan halusinasi yang paling sering dijumpai. 
  • Gangguan berpikir (berbicara) yang tidak teratur. Pemikiran yang tidak teratur dapat disimpulkan dari gaya bicara yang tidak teratur. Komunikasi yang efektif dapat terganggu, dan seseorang dapat memberi jawaban yang sebagian atau sama sekali tidak berhubungan terhadap suatu pertanyaan. Jarang ditemui, namun berbicara dapat melibatkan memasukkan kata-kata tidak berarti yang tidak dapat dimengerti. 
  • Perilaku motorik tidak normal atau tidak teratur. Ini dapat muncul dalam beberapa cara, mulai dari perilaku kekanak-kanakan hingga gelisah yang tidak dapat diprediksi. Perilaku yang muncul tidak berfokus terhadap tujuan, sehingga seseorang dengan skizofrenia akan sulit untuk mengerjakan sesuatu. Perilaku yang umum dijumpai pada penderita skizofrenia di antaranya adalah menolak arahan, postur tubuh yang aneh dan tidak normal, tidak memberikan respon apapun, dan gerakan berlebih. 
  • Gejala negatif. Ini mengacu pada berkurangnya kemampuan untuk berfungsi dengan normal. Misalnya, seseorang dengan skizofrenia tidak peduli dengan kebersihan diri atau tampak tidak menunjukkan emosi apapun (tidak membuat kontak mata, tidak mengubah ekspresi wajah, atau berbicara dengan sifat monontone). Selain itu, seseorang dengan skizofrenia juga dapat kehilangan ketertarikan dengan aktivitas sehari-hari, menjauhi kegiatan sosial, dan memiliki kekurangan kemampuan untuk mengalami kenikmatan. 

Gejala skizofrenia tersebut bervariasi dalam segi jenis dan tingkat keparahannya dalam setiap waktu, dengan periode gejala semakin parah atau semakin membaik yang berubah-ubah. Beberapa gejala bahkan akan terus ada. Pada laki-laki, gejala skizofrenia biasanya akan pertama kali muncul saat ia berusia pertengahan 20 an. Sementara pada wanita, skizofrenia muncul pada umur akhir 20an. Sangat jarang ditemui kasus skizofrenia pada anak dan orang dewasa usia lebih dari 45 tahun. Namun, skizofrenia dapat ditemui pada remaja, dengan kondisi yang mungkin lebih sulit dikenali. Ini mungkin karena beberapa gejala awal skizofrenia pada remaja umum dijumpai pada perkembangan perilaku remaja di usia mereka. Tanya dokter jiwa jika gejala tersebut di atas muncul. 

Categories
Kesehatan Mental

Gangguan Kepribadian Antisosial, Gejala dan Penyebab Seseorang Menjadi Sosiopat

Pernah mendengar istilah sosiopat? Sosiopat adalah suatu istilah untuk menyebut perilaku dan sikap acuh terhadap orang lain atau konsekuensi dari tindakannya. Sosiopat disebut juga dengan gangguan kepribadian antisosial.

Sosiopat merupakan salah satu jenis gangguan kejiwaan yang ditandai dengan rendahnya kemampuan seseorang untuk menilai baik atau buruknya sesuatu. Mereka hanya memilih untuk memenuhi kebutuhan sendiri tanpa memikirkan orang lain serta konsekuensi dari hal tersebut.

Sehingga, bukan tidak mungkin seorang sosiopat melakukan tindakan berupa kekerasan, tindakan tidak terpuji, hingga menipu demi dirinya sendiri. Dan yang paling parahnya lagi, pengidap gangguan kepribadian antisosial ini mungkin saja akan menyalahkan korban, manipulatif, membela sikapnya, dan tidak peduli pada perasaan apalagi hak orang lain yang dia langgar.

Gejala dan Tanda Seseorang Mengalami Gangguan Kepribadian Antisosial

Orang yang mengalami sosiopat biasanya tidak menyadari kondisinya. Ada beberapa gejala atau tanda-tanda seseorang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial atau sosiopat ini, yaitu:

  • Seringkali berbohong
  • Selalu bersikap sinis, tidak punya rasa empati, dan tidak menghargai orang lain
  • Tidak memiliki kemampuan untuk membedakan yang benar dan salah
  • Sombong, terlalu percaya diri, dan merasa superior
  • Bersikap manipulatif demi meraup keuntungan sendiri
  • Tidak belajar dari kesalahan
  • Mengintimidasi sehingga sering melukai orang lain
  • Terlibat dalam tindakan hukum dan kriminalitas
  • Tidak memahami konsekuensi dari tindakan yang dilakukan
  • Kerap melakukan kegiatan berbahaya tanpa adanya perhitungan

Gangguan kepribadian antisosial ini tidak bisa diobati, namun untuk beberapa gejala seperti perilaku kriminal biasanya bisa berkurang seiring berjalannya waktu.

Kenapa Seseorang Bisa Memiliki Sikap Antisosial?

Sebenarnya, penyebab seseorang mengalami gangguang kepribadian antisosial atau sosiopat ini belum diketahui secara pasti. Pada dasarnya ciri kepribadian seseorang ditentukan dari kombinasi antara pola pikir, emosi, dan perilaku.

Ada faktor-faktor seperti genetik, interaksi dengan lingkungan, dan kelainan fungsi otak dalam masa perkembangan diduga memiliki peran dalam membentuk kepribadian antisosial seseorang. Selain itu, faktanya seorang pria lebih berisiko mengalami gangguan kepribadian antisosial ini dibanding wanita.

Beriku beberapa faktor risiko yang dapat membuat seseorang memiliki sikap antisosial, yaitu:

  • Masa kanak-kanak mengalami pelecehan atau ditelantarkan
  • Memiliki gangguan perilaku di masa kecil
  • Sejak kecil tumbuh di lingkungan keluarga yang tidak harmonis atau menjadi korban tindakan kekerasan
  • Memiliki keluarga dengan riwayat gangguan antisosial, gangguan mental, dan gangguan kepribadian lainya.

Apakah Sikap Sosiopat Ini Bisa Disembuhkan?

Hingga saat ini, belum ditemukan obat untuk menyembuhkan gangguan antisosial ini. Penanganan yang dilakukan pada orang yang sosiopat hanyalah bertujuan untuk mencegah penderita melakukan hal atau perbuatan yang bisa membahayakan orang lain atau diri sendiri serta membimbing mereka untuk bisa hidup bermasyarakat dengan baik.

Penanganan atau perawatan yang dimaksud adalah terapi psikoterapi. Namun, untuk jenis obat-obatan khusus belum dipastikan. Namun, ketika penderita mengalami gejala gangguan mental tertentu seperti kecemasan, tidak bisa meredam emosi dan memiliki keinginan melakukan sesuatu yang berbahaya, maka dokter akan memberikan obat untuk menstabilkan hormon, obat penenang atau antipsikotik saja.

Karena ganggua kepribadian antisosial ini kondisi yang berlangsung seumur hidup, maka orang-orang yang ada di lingkungan penderita sosiopat juga turut memberikan support dan dukungan dalam perawatan gangguan kepribadian ini.

Gangguan ini bisa dideteksi dengan adanya tanda-tanda tertentu yang sudah muncul sejak kanal-kanak oleh orangtua maupun dokter spesialis anak. Jika penanganan efektif diberikan lebih dini, mungkin bisa mencegah terjadinya gangguan kepribadian antisosial ini saat dewasa.

Categories
Kesehatan Mental

Beberapa Kemungkinan di Balik Seseorang Menjadi Social Climber

Bergaul dengan orang-orang yang terlihat glamor adalah contoh orang yang ingin panjat sosial  (social climber)

Bagi Anda yang aktif di dunia media sosial mungkin sudah tidak asing dengan istilah “panjat sosial”, “pansos”, atau “social climber” ini. Ya, belakangan istilah itu kerap disematkan kepada mereka yang kerap berusaha menaikkan derajat sosialnya.

Semisal, agar dipandang dan dikenal sebagai seseorang yang berpunya, Mawar memamerkan beragam barang baru dan bermerek sekaligus berharga mahal. Padahal, itu semua bukan miliknya. Upaya itu dilakukan Mawar demi satu tujuan; mengubah penilaian orang akan status atau derajat sosialnya. 

  • Lantas, apa sih yang terjadi di balik fenomena ini? Kenapa ada kelompok orang yang berupaya betul ingin menaikkan derajat sosialnya? 

Sebenarnya tidak ada yang salah jika ingin dianggap sebagai orang kaya. Namun, yang jadi soal adalah, para social climber tersebut ingin terlihat kaya tanpa melalui sebuah proses terlebih dahulu. Mereka bahkan bisa melakukan apa saja agar mendapatkan kelas sosial yang diharapkan. Berikut beberapa penyebab seseorang menjadi social climber:

1. Merasa tidak nyaman

Salah satu penyebab orang menjadi social climber yaitu karena merasa dirinya tidak nyaman dengan lingkungannya. Apalagi jika lingkungan tersebut memiliki status sosial yang tinggi. Kenapa hal tersebut dapat memengaruhi seseorang menjadi social climber? karena social climber akan merasa status sosialnya berbeda dengan yang lain dan social climber akan melakukan berbagai cara agar status sosialnya tampak sama dengan yang lain.

 2. Tidak percaya diri

Rasa minder, rendah diri, atau tidak percaya diri kerap menjadi pemicu berbagai masalah psikologis. Dalam kasus social climber ini, ketidakpercayaan diri seseorang terhadap lingkungan atau lingkup pertemanan mereka secara langsung maupun tidak langsung akan mendorong mereka untuk melampaui segala batas agar terlihat setara.

3. Khawatir tidak diterima di lingkungannya 

Hal yang paling ditakutkan adalah tidak diterima di lingkungannya. Sudah tak asing jika orang–orang yang berpenampilan mewah akan bergerombol dengan orang yang berpenampilan mewah juga. 

Jika ada seseorang dari luar kalangan mereka yang ingin menembus batasan itu, dalam hal ini status sosial, yang bersangkutan akan melakukan apa saja agar dapat diterima dalam lingkungan yang ia inginkan.

4. Gengsi yang cukup tinggi

Sebagai contoh ada seseorang yang dulunya berkecukupan. Apa yang ia inginkan dapat terpenuhi, tetapi suatu saat musibah menimpa dirinya. Keadaan ekonomi menurun dan berakibat tidak terpenuhinya kebutuhan.

Jika orang–orang di sekelilingnya mengetahui hal tersebut, ia akan malu. Sebab biasanya ia tampil menawan yang apa apa dapat terpenuhi namun sekarang menjadi serba hemat dan tampil apa adanya. Maka dari itu ia akan melakukan segala cara agar orang–orang tidak mengetahui hal tersebut untuk menutupi rasa malunya.

5. Sulit untuk berinteraksi dan memperoleh teman

Sudah bukan suatu yang asing jika sesuatu yang menawan memang kerap digunakan sebagai daya tarik seseorang. Pakaian bermerek, barang–barang mewah nan mahal, kendaraan berkilau dan menteren akan membuat seseorang mudah mendapat banyak teman. Berbeda jika sebaliknya, meski satuan kualitas pertemanan tak dapat diukur dengan indikator ini.

Namun, nyatanya banyak orang yang terobsesi dengan materi dengan satu tujuan tersebut, yakni dikelilingi oleh banyak teman. Inilah yang kadang memicu seseorang berperan sebagai social climber

***Tidak perlu terlalu menuntut untuk tampil mewah dan menarik jika keadaan atau kantong tidak mencukupi. Tampil apa adanya akan lebih menyenangkan karena akan membuat diri lebih bahagia. Memaksakan diri, apalagi sampai menjadi social climber tentunya memiliki banyak dampak buruk bagi kesehatan mental dan psikologis seseorang.