Categories
Kesehatan Mental

Punya Gejala Skizofrenia? Tanya Dokter Jiwa Segera

Skizofrenia adalah sebuah penyakit mental serius di mana seseorang mengartikan kenyataan dengan tidak normal. Skizofrenia dapat menyebabkan kombinasi antara halusinasi, delusi, dan perilaku atau pikiran yang sangat terganggu yang dapat mempengaruhi fungsi atau aktivitas sehari-hari. Orang-orang dengan skizofrenia membutuhkan perawatan seumur hidup. Jika Anda atau keluarga menunjukkan tanda-tanda skizofrenia, segera tanya dokter jiwa seputar diagnosa dan perawatan. Perawatan dini dapat membantu menjaga gejala yang timbul tetap terkontrol sebelum komplikasi serius berkembang dan dapat membantu meningkatkan harapan hidup jangka panjang.

Apakah Berobat Kesehatan Jiwa Ditanggung BPJS Kesehatan?

Gejala yang perlu diperhatikan

Jika Anda menderita gejala skizofrenia, segera tanya dokter jiwa untuk mendapatkan diagnosa dan perawatan. Skizofrenia melibatkan beragam gangguan berpikir (kognisi), perilaku, dan emosi. Tanda dan gejala tersebut dapat bervariasi, namun biasanya melibatkan delusi, halusinasi, atau berbicara dengan tidak teratur, yang nantinya mengganggu kemampuan untuk berfungsi. Gejala skizofrenia di antaranya adalah:

  • Delusi. Ini adalah kepercayaan palsu yang tidak berdasar pada kenyataan. Misalnya, Anda berpikir Anda disakiti atau dilecehkan; beberapa sikap atau komentar yang ditujukan untuk Anda; Anda merasa memiliki keterampilan atau ketenaran yang besar; orang lain jatuh cinta pada Anda; dan kejadian besar akan terjadi. Delusi terjadi pada kebanyakan orang yang menderita skizofrenia. 
  • Halusinasi. Kondisi ini biasanya melibatkan melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata adanya. Namun, bagi orang-orang yang menderita skizofrenia, mereka mendapatkan dampak layaknya pengalaman normal. Halusinasi dapat mempengaruhi semua panca indera, namun mendengar suara merupakan halusinasi yang paling sering dijumpai. 
  • Gangguan berpikir (berbicara) yang tidak teratur. Pemikiran yang tidak teratur dapat disimpulkan dari gaya bicara yang tidak teratur. Komunikasi yang efektif dapat terganggu, dan seseorang dapat memberi jawaban yang sebagian atau sama sekali tidak berhubungan terhadap suatu pertanyaan. Jarang ditemui, namun berbicara dapat melibatkan memasukkan kata-kata tidak berarti yang tidak dapat dimengerti. 
  • Perilaku motorik tidak normal atau tidak teratur. Ini dapat muncul dalam beberapa cara, mulai dari perilaku kekanak-kanakan hingga gelisah yang tidak dapat diprediksi. Perilaku yang muncul tidak berfokus terhadap tujuan, sehingga seseorang dengan skizofrenia akan sulit untuk mengerjakan sesuatu. Perilaku yang umum dijumpai pada penderita skizofrenia di antaranya adalah menolak arahan, postur tubuh yang aneh dan tidak normal, tidak memberikan respon apapun, dan gerakan berlebih. 
  • Gejala negatif. Ini mengacu pada berkurangnya kemampuan untuk berfungsi dengan normal. Misalnya, seseorang dengan skizofrenia tidak peduli dengan kebersihan diri atau tampak tidak menunjukkan emosi apapun (tidak membuat kontak mata, tidak mengubah ekspresi wajah, atau berbicara dengan sifat monontone). Selain itu, seseorang dengan skizofrenia juga dapat kehilangan ketertarikan dengan aktivitas sehari-hari, menjauhi kegiatan sosial, dan memiliki kekurangan kemampuan untuk mengalami kenikmatan. 

Gejala skizofrenia tersebut bervariasi dalam segi jenis dan tingkat keparahannya dalam setiap waktu, dengan periode gejala semakin parah atau semakin membaik yang berubah-ubah. Beberapa gejala bahkan akan terus ada. Pada laki-laki, gejala skizofrenia biasanya akan pertama kali muncul saat ia berusia pertengahan 20 an. Sementara pada wanita, skizofrenia muncul pada umur akhir 20an. Sangat jarang ditemui kasus skizofrenia pada anak dan orang dewasa usia lebih dari 45 tahun. Namun, skizofrenia dapat ditemui pada remaja, dengan kondisi yang mungkin lebih sulit dikenali. Ini mungkin karena beberapa gejala awal skizofrenia pada remaja umum dijumpai pada perkembangan perilaku remaja di usia mereka. Tanya dokter jiwa jika gejala tersebut di atas muncul. 

Categories
Kesehatan Mental

Gangguan Kepribadian Antisosial, Gejala dan Penyebab Seseorang Menjadi Sosiopat

Pernah mendengar istilah sosiopat? Sosiopat adalah suatu istilah untuk menyebut perilaku dan sikap acuh terhadap orang lain atau konsekuensi dari tindakannya. Sosiopat disebut juga dengan gangguan kepribadian antisosial.

Sosiopat merupakan salah satu jenis gangguan kejiwaan yang ditandai dengan rendahnya kemampuan seseorang untuk menilai baik atau buruknya sesuatu. Mereka hanya memilih untuk memenuhi kebutuhan sendiri tanpa memikirkan orang lain serta konsekuensi dari hal tersebut.

Sehingga, bukan tidak mungkin seorang sosiopat melakukan tindakan berupa kekerasan, tindakan tidak terpuji, hingga menipu demi dirinya sendiri. Dan yang paling parahnya lagi, pengidap gangguan kepribadian antisosial ini mungkin saja akan menyalahkan korban, manipulatif, membela sikapnya, dan tidak peduli pada perasaan apalagi hak orang lain yang dia langgar.

Gejala dan Tanda Seseorang Mengalami Gangguan Kepribadian Antisosial

Orang yang mengalami sosiopat biasanya tidak menyadari kondisinya. Ada beberapa gejala atau tanda-tanda seseorang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial atau sosiopat ini, yaitu:

  • Seringkali berbohong
  • Selalu bersikap sinis, tidak punya rasa empati, dan tidak menghargai orang lain
  • Tidak memiliki kemampuan untuk membedakan yang benar dan salah
  • Sombong, terlalu percaya diri, dan merasa superior
  • Bersikap manipulatif demi meraup keuntungan sendiri
  • Tidak belajar dari kesalahan
  • Mengintimidasi sehingga sering melukai orang lain
  • Terlibat dalam tindakan hukum dan kriminalitas
  • Tidak memahami konsekuensi dari tindakan yang dilakukan
  • Kerap melakukan kegiatan berbahaya tanpa adanya perhitungan

Gangguan kepribadian antisosial ini tidak bisa diobati, namun untuk beberapa gejala seperti perilaku kriminal biasanya bisa berkurang seiring berjalannya waktu.

Kenapa Seseorang Bisa Memiliki Sikap Antisosial?

Sebenarnya, penyebab seseorang mengalami gangguang kepribadian antisosial atau sosiopat ini belum diketahui secara pasti. Pada dasarnya ciri kepribadian seseorang ditentukan dari kombinasi antara pola pikir, emosi, dan perilaku.

Ada faktor-faktor seperti genetik, interaksi dengan lingkungan, dan kelainan fungsi otak dalam masa perkembangan diduga memiliki peran dalam membentuk kepribadian antisosial seseorang. Selain itu, faktanya seorang pria lebih berisiko mengalami gangguan kepribadian antisosial ini dibanding wanita.

Beriku beberapa faktor risiko yang dapat membuat seseorang memiliki sikap antisosial, yaitu:

  • Masa kanak-kanak mengalami pelecehan atau ditelantarkan
  • Memiliki gangguan perilaku di masa kecil
  • Sejak kecil tumbuh di lingkungan keluarga yang tidak harmonis atau menjadi korban tindakan kekerasan
  • Memiliki keluarga dengan riwayat gangguan antisosial, gangguan mental, dan gangguan kepribadian lainya.

Apakah Sikap Sosiopat Ini Bisa Disembuhkan?

Hingga saat ini, belum ditemukan obat untuk menyembuhkan gangguan antisosial ini. Penanganan yang dilakukan pada orang yang sosiopat hanyalah bertujuan untuk mencegah penderita melakukan hal atau perbuatan yang bisa membahayakan orang lain atau diri sendiri serta membimbing mereka untuk bisa hidup bermasyarakat dengan baik.

Penanganan atau perawatan yang dimaksud adalah terapi psikoterapi. Namun, untuk jenis obat-obatan khusus belum dipastikan. Namun, ketika penderita mengalami gejala gangguan mental tertentu seperti kecemasan, tidak bisa meredam emosi dan memiliki keinginan melakukan sesuatu yang berbahaya, maka dokter akan memberikan obat untuk menstabilkan hormon, obat penenang atau antipsikotik saja.

Karena ganggua kepribadian antisosial ini kondisi yang berlangsung seumur hidup, maka orang-orang yang ada di lingkungan penderita sosiopat juga turut memberikan support dan dukungan dalam perawatan gangguan kepribadian ini.

Gangguan ini bisa dideteksi dengan adanya tanda-tanda tertentu yang sudah muncul sejak kanal-kanak oleh orangtua maupun dokter spesialis anak. Jika penanganan efektif diberikan lebih dini, mungkin bisa mencegah terjadinya gangguan kepribadian antisosial ini saat dewasa.

Categories
Kesehatan Mental

Beberapa Kemungkinan di Balik Seseorang Menjadi Social Climber

Bergaul dengan orang-orang yang terlihat glamor adalah contoh orang yang ingin panjat sosial  (social climber)

Bagi Anda yang aktif di dunia media sosial mungkin sudah tidak asing dengan istilah “panjat sosial”, “pansos”, atau “social climber” ini. Ya, belakangan istilah itu kerap disematkan kepada mereka yang kerap berusaha menaikkan derajat sosialnya.

Semisal, agar dipandang dan dikenal sebagai seseorang yang berpunya, Mawar memamerkan beragam barang baru dan bermerek sekaligus berharga mahal. Padahal, itu semua bukan miliknya. Upaya itu dilakukan Mawar demi satu tujuan; mengubah penilaian orang akan status atau derajat sosialnya. 

  • Lantas, apa sih yang terjadi di balik fenomena ini? Kenapa ada kelompok orang yang berupaya betul ingin menaikkan derajat sosialnya? 

Sebenarnya tidak ada yang salah jika ingin dianggap sebagai orang kaya. Namun, yang jadi soal adalah, para social climber tersebut ingin terlihat kaya tanpa melalui sebuah proses terlebih dahulu. Mereka bahkan bisa melakukan apa saja agar mendapatkan kelas sosial yang diharapkan. Berikut beberapa penyebab seseorang menjadi social climber:

1. Merasa tidak nyaman

Salah satu penyebab orang menjadi social climber yaitu karena merasa dirinya tidak nyaman dengan lingkungannya. Apalagi jika lingkungan tersebut memiliki status sosial yang tinggi. Kenapa hal tersebut dapat memengaruhi seseorang menjadi social climber? karena social climber akan merasa status sosialnya berbeda dengan yang lain dan social climber akan melakukan berbagai cara agar status sosialnya tampak sama dengan yang lain.

 2. Tidak percaya diri

Rasa minder, rendah diri, atau tidak percaya diri kerap menjadi pemicu berbagai masalah psikologis. Dalam kasus social climber ini, ketidakpercayaan diri seseorang terhadap lingkungan atau lingkup pertemanan mereka secara langsung maupun tidak langsung akan mendorong mereka untuk melampaui segala batas agar terlihat setara.

3. Khawatir tidak diterima di lingkungannya 

Hal yang paling ditakutkan adalah tidak diterima di lingkungannya. Sudah tak asing jika orang–orang yang berpenampilan mewah akan bergerombol dengan orang yang berpenampilan mewah juga. 

Jika ada seseorang dari luar kalangan mereka yang ingin menembus batasan itu, dalam hal ini status sosial, yang bersangkutan akan melakukan apa saja agar dapat diterima dalam lingkungan yang ia inginkan.

4. Gengsi yang cukup tinggi

Sebagai contoh ada seseorang yang dulunya berkecukupan. Apa yang ia inginkan dapat terpenuhi, tetapi suatu saat musibah menimpa dirinya. Keadaan ekonomi menurun dan berakibat tidak terpenuhinya kebutuhan.

Jika orang–orang di sekelilingnya mengetahui hal tersebut, ia akan malu. Sebab biasanya ia tampil menawan yang apa apa dapat terpenuhi namun sekarang menjadi serba hemat dan tampil apa adanya. Maka dari itu ia akan melakukan segala cara agar orang–orang tidak mengetahui hal tersebut untuk menutupi rasa malunya.

5. Sulit untuk berinteraksi dan memperoleh teman

Sudah bukan suatu yang asing jika sesuatu yang menawan memang kerap digunakan sebagai daya tarik seseorang. Pakaian bermerek, barang–barang mewah nan mahal, kendaraan berkilau dan menteren akan membuat seseorang mudah mendapat banyak teman. Berbeda jika sebaliknya, meski satuan kualitas pertemanan tak dapat diukur dengan indikator ini.

Namun, nyatanya banyak orang yang terobsesi dengan materi dengan satu tujuan tersebut, yakni dikelilingi oleh banyak teman. Inilah yang kadang memicu seseorang berperan sebagai social climber

***Tidak perlu terlalu menuntut untuk tampil mewah dan menarik jika keadaan atau kantong tidak mencukupi. Tampil apa adanya akan lebih menyenangkan karena akan membuat diri lebih bahagia. Memaksakan diri, apalagi sampai menjadi social climber tentunya memiliki banyak dampak buruk bagi kesehatan mental dan psikologis seseorang.