Categories
Penyakit

Angiotensin Converting Enzyme Inhibitors dan Tekanan Darah Tinggi

Hipertensi, atau biasa dikenal dengan sebutan tekanan darah tinggi, merupakan sebuah kondisi serius yang memengaruhi 1 dari 3 orang dewasa di Amerika Serikat. Kondisi ini dikarakterisasikan dengan pembacaan tekanan darah di atas 130/80 mmHg. Obat-obatan yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah disebut dengan istilah antihipertensi, yang tersedia dalam berbagai kelas, salah satunya adalah ACE inhibitor. ACE singkatan dari “angiotensin converting enzyme”. Obat-obatan ini menurunkan tekanan darah dengan cara membuat pembuluh darah relaks dan membuka, dan menyebabkan aliran darah lebih lancar. Sejak tahun 1981, ACE inhibitor diresepkan untuk merawat hipertensi. Hal tersebut disebabkan karena ACE inhibitor lebih mudah ditoleransi oleh tubuh. Obat ini biasanya diminum satu kali sehari, biasanya pada pagi hari. Obat ini juga dapat diresepkan bersamaan dengan diuretic atau penghambat saluran kalsium, yang mana juga digunakan sebagai obat perawatan tekanan darah tinggi.

Bagaimana ACE inhibitor bekerja?

ACE inhibitor memiliki 2 fungsi utama, yaitu mengurangi jumlah sodium yang tersimpan di ginjal, dan menghentikan produksi hormon yang bernama angiotensin II. Hormon ini biasanya menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Saat hormon angiotensi II tidak diproduksi, darah dapat mengalir lewa pembuluh darah dengan lebih efektif. Hal ini akan membantu pembuluh darah untuk relaks dan membesar, sehingga dapat mengurangi tekanan darah. Selain menurunkan tekanan darah, ACE inhibitor juga memiliki dampak yang positif terhadap kesehatan keseluruhan. Obat-obatan ini dapat memperlambat perkembangan penyakit ginjal dan atherosclerosis. Atherosclerosis adalah penyempitan arteri yang disebabkan karena penumpukan plak. ACE inhibitor juga telah dibuktikan bermanfaat untuk orang-orang yang menderita penyakit diabetes.

Efek samping ACE inhibitor

Kebanyakan orang dapat mentoleransi obat ini dengan baik. Namun, sama seperti obat-obatan lain, ACE inhibitor dapat menyebabkan beberapa efek samping bagi beberapa orang, seperti kelelahan, ruam, menurunnya kemampuan untuk merasa, batuk kering, tekanan darah rendah, dan pingsan. Dalam kasus yang jarang ditemukan, ACE inhibitor dapat menyebabkan bibir, lidah, dan tenggorokan membengkak, membuat Anda kesulitan bernapas. Hal ini kemungkinan akan terjadi pada orang-orang yang merokok. Apabila Anda adalah perokok aktif, konsultasi dengan dokter terlebih dahulu tentang risiko efek samping sebelum Anda menggunakan ACE inhibitor. Orang-orang dengan fungsi ginjal yang terganggu juga perlu berhati-hati menggunakan obat-obatan jenis ini. ACE inhibitor dapat meningkatkan level potassium. Hal ini dapat menyebabkan kegagalan ginjal pada orang-orang yang memiliki ginjal yang rusak. Karena risiko efek samping ini, ACE inhibitor biasanya tidak direkomendasikan untuk ibu hamil.

Beberapa obat-obatan penghilang rasa sakit OTC juga dapat mengurangi keefektifan ACE inhibitor. Pastikan Anda konsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan ibu profen, naproxen, dan obat antiperadangan nonsteroid lain. Minum obat-obatan tersebut saat Anda diresepkan ACE inhibitor mungkin tidak berbahaya apabila sesekali dilakukan. Namun, hindari konsumsi bersamaan secara teratur. Konsultasi dengan dokter apabila Anda memiliki kekhawatiran seputar potensi interaksi obat.

Sama seperti obat-obatan resep lain, Anda tidak boleh berhenti mengonsumsi angiotensin converting enzyme inhibitor kecuali atas anjuran dari dokter. Mungkin Anda akan sangat tertarik berhenti menggunakan obat tersebut setelah tubuh merasa baikan. Namun, terus menerus mengonsumsinya akan membantu menjaga tekanan darah dalam batas yang sehat. Apabila Anda menderita efek samping apapun, hubungi dokter terlebih dahulu sebelum Anda berhenti menggunakan obat. Efek samping tersebut dapat hilang setelah beberapa waktu. Dokter juga mungkin memiliki panduan khusus bagaimana menghentikan pengobatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *